Monday, May 10, 2021
Home > Literasi > Resensi > Dongeng Filsafat Satire Khas Voltaire

Dongeng Filsafat Satire Khas Voltaire

candide kpg

Candide merupakan sebuah novel satire yang ditulis oleh Voltaire. Pertama kali terbit di Jenewa, Swiss, dalam bahasa Prancis pada 1759.  Judul asli novel ini adalah Candide Ou L’Optimism.

Kisah ini berawal dari terusirnya Candide dari Istana Baron Thunder-ten-tronckh di WestPhalen, Jerman, gara-gara sebuah ciuman lugu yang ia lakukan terhadap  Cunegonde, anak perempuan raja. Kemudian, Candide menjadi seorang musafir yang berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain di Eropa. Peta perjalanannya: Jerman – Portugal – Paraguay – Venezuela – Eldorado – Belanda – Prancis – dan Istanbul. Dalam pengembaraannya, Candide mendapat kabar bahwa Kerajaan Baron telah hancur. Kekasihnya, Cunegonde, beserta ayah, ibu, dan kakak lelakinya yang saat itu menjadi Pangeran Baron telah meninggal.

Baca juga: Nietzsche: Sang Pembunuh Tuhan yang Mencintai Takdirnya

Candide pun pingsan saat mengetahui kabar bahwa orang yang dicintainya telah tiada. Namun, di Portugal ia bertemu Cunegonde yang ternyata masih hidup. Mereka sering memperbincangkan guru Pangloss, guru filsafat di Kerajaan Baron yang mengajarkan prinsip optimisme kehidupan. Optimisme adalah kegilaan mempertahankan pendapat bahwa segalanya berjalan baik, padahal kenyataannya adalah kebalikannya. Dalam beberapa hal, dua tokoh ini meragukan doktrin tersebut, namun kemudian memercayainya kembali. Pangloss benar-benar guru yang diidam-idamkan oleh Candide. Selain mengajarkan filsafat kuno, seperti sosialisme purba dan manicheisme (penganut Manes – Filsuf Persia abad ke-3 SM yang mengatakan bahwa di dunia ini selalu ada pertentangan antara kebaikan dan keburukan), di istana, Pangloss juga mengajarkan metafisika-teologi-kosmologi-konyologi. Terminologi konyologi tentu saja tambahan dari Voltaire sendiri sebagai bahan olok-olok.

Karena kecemburuan Candide terhadap seorang pastor dan seorang Yahudi yang memperebutkan Cunegonde yang cantik, Candide lalu membunuh kedua lelaki itu. Kemudian ia bersama Cunegonde melarikan diri dan menemui Gubernur Buenos Aires meminta perlindungan. Atas aksi pembunuhan itu, Candide terpaksa melarikan diri saat dikejar-kejar prajurit. Ia menitipkan Cunegonde kepada gubernur. Cunegonde lalu dipinang oleh sang gubernur. Petualangan Candide  dan Cacambo – pembantunya – keliling dunia dimulai setelah itu. Kemalangan demi kemalangan dialaminya, namun ia selalu percaya akan ajaran optimisme Pangloss. Selain melarikan diri dan menemukan banyak hal, ia berupaya mencari kekasih hati yang sangat ia cintai, Cunegonde. Kemudian ia bertemu seorang ilmuwan  bernama Martin yang kemudian juga turut serta bersama Candide.

Baca juga: Penolakan Ryunosuke Akutagawa terhadap Realitas

Prinsip Optimisme yang dianut oleh Pangloss merupakan pemikiran filsuf Leibniz dan pengikutnya Wolf, musuh Voltaire. Mereka beranggapan bahwa dunia ini diciptakan Tuhan dalam keadaan terbaik yang mungkin diberikan. Dalam hal ini, sebenarnya Voltaire sedang mengolok-olok Leibniz melalui tokoh Pangloss dan pengikutnya, terutama Candide. Voltaire banyak melakukan sindiran dalam buku ini. Sindiran pertama, dengan memunculkan tokoh Martin dalam menyangkal optimisme yang diyakini Candide. Keyakinan Candide ini sering kali diulang-ulang sehingga membuat pembaca bosan.

Facebook Comments