Satire lain yang dituliskan Voltaire antara lain, kedua, mengenai petinggi agama nasrani yang kala itu merangkap jabatan sebagai pejabat pemerintahan, bahkan pejabat militer. Voltaire tidak hanya nyinyir terhadap penyimpangan-penyimpangan pastor, tetapi juga penyimpangan yang dilakukan oleh umat muslim. Ketiga, Voltaire mengutuk perdagangan umat manusia, yakni perbudakan. Melalui tokoh utamanya, ia memunculkan penokohan Candide yang senang membantu orang lain, yakni membebaskan perbudakan dengan harta yang ia miliki.
Baca juga: Ketika Modernitas Datang dan Tradisi Belum Ditinggalkan
Keempat, sindiran terhadap kefanatikan yang berakibat pembunuhan. Kelima, sindiran terhadap kekejian orang-orang Yahudi yang pandai menipu. Keenam, sindiran Voltaire mengenai akademi sains yang sering melakukan hal-hal konyol. Ketujuh, sindiran terhadap sistem kerajaan yang sangat feodal. Hal ini ia ceritakan pada sebuah negara bernama Eldorado – sebuah negara utopis yang diidam-idamkan Voltaire – yang takkan mungkin ada di dunia nyata. Di sana ia mengisahkan deisme, buah pikirannya, agama tanpa pendeta ataupun pastor. Kedelapan, ia menyindir penyair Milton dan Arioste, serta masih banyak lagi sindiran-sindiran konyol lainnya yang ia jelaskan melalui dongeng filsafatnya.
Voltaire juga meramu cerita dengan memunculkan peristiwa-peristiwa sejarah dunia, seperti peperangan antara Prusia – Prancis, peperangan antara Inggris – Spanyol, peristiwa gempa bumi di Lisabon yang mengakibatkan ¾ kota itu hancur, transaksi antara Portugal dan Maroko, revolusi Peru, penyiksaan orang-orang di Suriname, perebutan Lembah Ohio dan Illinois pada 1763, dan lai-lain.
Baca juga: Kisah-kisah Persahabatan dan Perempuan di Dataran Tortilla
Voltaitaire yang turut memberikan inspirasi untuk menggulirkan Revolusi Prancis pada 1789 adalah filsuf sekaligus pengarang yang cerdas. Pengetahuannya tentang banyak negara sangatlah luas sehingga melalui pengembaraan Candide, pembaca seolah diajak piknik imajinasi ke berbagai belahan dunia. Dari beberapa kisah yang memunculkan gambaran perpolitikan beberapa negara, dapat diartikan bahwa penulis sangat paham kondisi internasional pada saat itu.
Keabsurdan novel ini tampak pada beberapa tokoh yang sudah dinyatakan meninggal dunia kemudian tiba-tiba hidup kembali. Misalnya, Cunegonde yang dinyatakan telah meninggal dengan kondisi perut robek dan diperkosa tentara Prusia kemudian menceritakan bahwa nyawanya diselamatkan oleh orang lain. Hal ini juga terlihat pada Pangeran Baron, Guru Pangloss yang dihukum gantung, dan kisah si nenek yang kehilangan separuh pantatnya. Barangkali ini berarti meskipun Voltaire menggambarkan banyak orang-orang jahat, di dunia ini tetap ada orang baik atau pura-pura baik. Bila di dunia nyata, orang-orang lebih senang menceritakan kebahagiaan, maka di buku ini orang-orang lebih senang menceritakan penderitaan hidupnya.
