Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Cerita > Pergi

Pergi

pergi

Di tinggal oleh dua orang terkasih membuat Lina makin rapuh. Ia juga mulai sakit-sakitan, tidak teratur makan dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk duduk di depan TV, berharap dapat melihat kembali berita tentang Danar. Pameran tunggal Danar yang sempat ditontonnya kemarin, justru membuat harapannya makin besar, kerinduannya makin membuncah. Danar telah menjadi seorang pelukis terkenal. Lina melihat Danar sudah sangat berbeda dari saat terakhir kali mereka bertemu.

Yang dilihatnya pada pertunjukan berdurasi tidak lebih dari 3 menit itu adalah sosok laki-laki matang yang penuh rasa percaya diri. Sosoknya tinggi tegap, wajahnya tenang, kumisnya tipis, dengan belahan rambut yang tersisir rapi. Berbeda sekali dengan Danar miliknya dahulu. Danar tampak jalan berkeliling di antara para pejabat berjas, sambil memperlihatkan karya lukisannya yang menggantung di dinding ruang pameran tersebut. Dia tampak tenang menghadapi pertanyaan wartawan, menandakan kematangan dirinya. Belum lagi rasa rindunya terobati, tayangan tersebut telah berakhir, berganti dengan acara sinetron yang ia sendiri tak berminat menontonnya.

Sejak itulah kursi santai di depan TV menjadi tempat favorit bagi Lina untuk menghabiskan rasa sepinya. Berjam-jam ia melihat siaran demi siaran TV, berharap dapat melihat kembali sosok Danarnya dalam satu dua ulasan berita. Rasa sepi dan rindu makin menyeruak dalam, menyisakan luka dan kecewa yang tak terdengar oleh helaan nafasnya sendiri.

Sore itu, Lina memutuskan menulis sepucuk surat. Untuk Danar di mana pun ia berada.

Isinya cukup singkat karena Lina juga tidak pandai menulis. Tulisan itu pun makin tidak jelas terbaca karena terhapus air mata yang menetes deras ketika ia menuliskannya.

Danar anakku, Ibu rindu. Terlebih Bapak yang lebih dulu pergi dengan mendekap erat kerinduannya padamu. Pulanglah Nak! Lihat pusara Bapak dan basuh rindu Ibu dengan pelukmu. Jangan lupakan kami Nak, sebagaimana kami yang tidak sedetik pun pernah melupakanmu. Dari Ibu.

Belum lagi sempat melipat surat tersebut atau mengirimkannya, Lina merasa tubuhnya ringan, semakin ringan, bertambah ringan dan sampai akhirnya ia dapat melihat bagaimana tubuhnya pun ia tinggalkan. Santoso suaminya ada di sana, tersenyum, menyambut dan mendekapnya.


Dewi Yunita Widiarti, sehari-hari bekerja di sebuah lembaga konservasi di Jambi.

Translate »