Terluka. Itulah yang dirasakan Santoso ketika Danar akan melanjutkan sekolah lukisnya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Berhari-hari suami istri itu terlibat debat, atau justru duduk diam bersama dengan kesedihan dan pikirannya masing-masing. Rasanya baru kemarin Danar terbungkus bedong, kain bayi yang dililitkan ke tubuh mungilnya agar tetap membuatnya hangat. Santoso seperti tidak percaya kalau dalam hitungan hari Danar akan meninggalkan mereka. Kemauan Danar begitu kuat. Sifat keras kepala Lina sepertinya melekat erat pada kepribadian Danar.
Rumah tampak lenggang setelah bus besar membawa Danar pergi menuju Yogyakarta. Lina buru-buru menuju dapur dengan alasan ingin memasak nasi. Santoso sempat melihat air mata istrinya jatuh saat tangannya sibuk mencuci beras. Lina jarang menangis, Santoso menyimpulkan Lina bukan tipe perempuan cengeng. Sepanjang 23 tahun pernikahannya, hanya 3 kali Santoso melihat air mata istrinya. Pertama saat ijab Kabul, kedua saat ia mengazani Danar ketika baru lahir, dan yang ketiga adalah hari ketika Danar pergi untuk melanjutkan sekolah.
Sebenarnya Santoso sendiri sibuk dengan hatinya. Ia berdiam sesaat di kamar yang selama ini dihuni Danar. Matanya menyapu setiap sudut ruang berukuran 4 x 4 meter itu. Ada tempat tidur dengan seprai putih motif kembang-kembang kecil yang posisinya menghadap jendela. Di sisi kanan ada satu lemari kayu dua pintu, sedangkan di bagian kiri ada satu meja belajar yang selama ini digunakan Danar.
Santoso teringat apa yang ia lakukan semalam. Terjaga dari tidurnya, ia mendatangi kamar Danar dengan mengendap-endap. Cukup lama ia duduk di pinggir ranjang dan memandangi wajah putra semata wayangnya yang lelap tertidur. Dadanya terasa sesak oleh rasa takut kehilangan yang besok akan ia hadapi. Ia berharap Danar mengubah keputusannya. Santoso tahu harapan itu tidak berpeluang terjadi.
Sebelum kembali ke kamarnya, mata Santoso tertuju pada bingkai foto di atas meja belajar Danar. Satu-satunya foto keluarga yang pernah diabadikan, itu pun saat Danar masih bayi. Kurang lebih tiga bulan umurnya pada saat itu. Bingkai tersebut ia selipkan pada tumpukan baju Danar yang sudah tersusun rapi dalam travel bag. Santoso hanya ingin Danar mengingatnya: mengingat ayah dan ibunya. Ia begitu takut dilupakan.
Rumah menjadi lebih sunyi. Lina semakin menyibukkan diri di kebun bunganya, sementara Santoso lebih banyak duduk termenung memandang bidak-bidak catur yang nyaris tidak pernah lagi ia sentuh. Sesekali Budi datang mengajaknya bertanding, tapi skakmat yang dikantonginya tetap tidak dapat menyamai rasa gembiranya ketika Danar lahir.
