Tak hanya destinasi wisata di tanah air yang ia kunjungi. Perempuan kelahiran Trenggalek ini juga sudah menjelajah ke sejumlah negara lain di Asia dan Eropa. Itu semua berawal dari mimpi yang ia bangun. Kisah perjalanan ke banyak tempat, diabadikan dengan menuliskannya untuk media massa dan menulis buku. Ia telah memilih jalan sunyi menjadi seorang penulis. Bahkan, pada tahun 2011 lalu ia mengambil langkah berani; memilih resign dari pekerjaannya sebagai scripeditor di sebuah stasiun televisi swasta. Kemudian fokus menjadi penulis lepas dan melakukan traveling ke berbagai negara. “Banyak orang ingin keliling dunia tapi hanya berhenti di keinginan. Saya percaya semua berawal dari mimpi dan saya bisa ke beberapa tempat baru juga berawal dari mimpi.” kata Tary Lestari kepada redaksi puan.co, akhir pekan lalu. Berikut petikan wawancara redaksi puan.co dengan perempuan inspiratif satu ini.
Halo Mbak Tary. Bagaimana kabarnya?
Halo juga. Alhamdulillah baik dan sehat.
Ngomong-ngomong, sekarang ini lagi sibuk apa mbak. Apakah masih sering melakukan kegiatan traveling?
Saya seperti biasa sibuk bekerja, traveling sebenarnya hanya saya rencanakan 1-3 kali dalam setahun dengan jangka waktu sesuai kondisi.
Wah, keren sekali ya. Kalau traveling di dalam negeri sudah berkunjung kemana saja?
Saya baru menjelajah Sulawesi Selatan/Toraja, Sumatera/Lampung, Kalimantan Barat, Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat tentu saja karena tempat saya tinggal sekarang. Saya ingin menjelajah Indonesia dan ini mimpi besar saya, tapi entah kenapa belum kesampaian sampai hari ini. Mungkin nanti, insya Allah.
Nah, kalau ke luar negeri Mbak Tary sudah mengunjungi negara mana?
Asia (Tiongkok, Jepang, Korea, Hongkong, Macau, Thailand, Malaysia, Vietnam, Singapura, Kamboja), Inggris, Perancis, Swiss, Austria, Budapest, Praha, Belanda.
Setiap mengunjungi suatu negara pasti ada kesan yang membekas. Kalau Mbak Tary sendiri kunjungan ke negara mana yang paling berkesan? Bisa ceritakan apa yang membuat Mbak Tary memiliki kesan tersendiri dengan negara tersebut?
Saya sangat terkesan dengan Xi’an di Tiongkok. Kotanya kuno dan eksotis. Karena di sana banyak muslim, jadi saya seperti bertemu saudara sendiri yang lama tidak bertemu. Selain itu muslim quarter menjadi tempat kuliner muslim yang sangat menarik. Dan kalau ada kesempatan kembali, Xi’an satu-satunya tempat yang pertama kali ingin saya kunjungi lagi.
Kabarnya dulu Mbak Tary bekerja sebagai scripeditor di sebuah televisi swasta, lalu memilih resign dan melakukan traveling ke banyak tempat. Bagaimana mbak bisa membuat keputusan berani tersebut?
