Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Cerita > Pergi

Pergi

pergi

“Jangan terlalu dipikirkan San, ingat kesehatanmu. Sudah 2 kali dalam satu bulan ini maag kronismu kambuh,” Budi selalu mengingatkan sebelum ia pulang.

Lina juga terlihat semakin khawatir dan terpaksa menunggui Santoso yang malas sekali minum obat dari dokter. Sampai akhirnya, malam itu Santoso mengeluh sakit perut. Lina menyadari bahwa sakit Santoso kali ini lebih parah dari biasanya. Tubuh Santoso panas tinggi. Ia meringkuk dengan lengan memegangi perut, sementara keringat sebesar biji jagung membasahi dahi karena berusaha menahan rasa sakit di lambungnya.

Lina mencoba menghubungi Danar. Ketika itu masih pukul 02.00 dinihari, dan kecil kemungkinan Danar akan mengangkat telepon darinya.

Beberapa kali mereka mencoba menghubungi Danar, namun panggilan itu banyak tidak terjawab. Kalau pun dapat mendengar suara Danar, mereka hanya bisa berbincang tidak sampai 60 detik. Danar kerap berjanji akan menelepon kembali, tapi kenyataannya sejak pagi hingga larut malam telepon yang ditunggu tidak juga berdering.

“Tidurlah…, Mungkin Danar begitu sibuk dengan persiapan pameran besarnya bu,” Santoso selalu mencoba memberi alasan pada Lina yang sudah duduk sejak sore tak jauh dari gagang telepon, menunggu janji Danar.

Namun, Lina tidak pernah tahu ketika dirinya tidur, justru Santoso yang menempati kursi yang ia duduki sebelumnya, berharap bunyi telepon masih akan berdering dari putranya.

Lina masih terus mencoba menghubungi Danar. Nada sambung itu terdengar, namun tidak kunjung diangkat. Tangisnya mulai pecah, terlebih ketika ia melihat tubuh Santoso menggigil hebat. Gagang telepon itu terlepas dari tangannya. Lina berlari mendekati tempat tidur Santoso. Lina berupaya mengguncang keras tubuh suaminya, memanggil-manggil namanya. Namun kesadaran Santoso makin menipis. Ia mendengar suara Lina yang menangis, tapi dalam bayangannya Santoso hanya melihat Danar. Melihat Danar melalui kenangannya. Hingga akhirnya Santoso pergi dalam buncah kerinduan diiringi tangis Lina.

***

Yogyakarta bukan tempat yang dekat. Butuh empat hari tiga malam untuk sampai ke sana dari Lembata Kupang, kampung halamannya. Satu perjalanan yang tidak mungkin Lina tempuh seorang diri.

Kabar duka berpulangnya Santoso juga tidak bisa tersampaikan pada Danar. Nomor HP yang terakhir kali Danar berikan, tiba-tiba tidak bisa dihubungi. Sedangkan telepon apartemennya justru diangkat oleh penghuni lain yang menyampaikan ketidaktahuannya terkait keberadaan penghuni sebelumnya.

Lina justru mendapat kabar dari Budi, bahwa kini karier Danar mulai bersinar. Danar akan menggelar pameran lukis tunggalnya di London dalam dua hari ke depan. Budi menyuruh Lina agar menonton acara pameran tersebut melalui salah satu stasiun televisi swasta yang meliput. Budi mengetahui informasi itu dari televisi dan internet, itu pun setelah Lina merengek minta tolong padanya untuk mencari tahu keberadaan Danar, si buah hatinya.

Translate »