Baca juga:
- Hunting Foto Keluarga di Blacksweet Photography
- Sensasi Menginap di Rumah Kito
- Jam Gadang dan Big Ben, Saudara Kembar Berbeda Ibu
- Wisata Sejarah di Taman Monumen Bung Hatta Bukittinggi
- Mengenang Senja di Paris
- Pantai Padang yang Menawan
- Liburan Edukasi di Seaworld Ancol
- Jambi Paradise, Apakah Benar Surganya Wahana Wisata Jambi?
- Memanjakan Mata dan Lidah di Gentala Arasy
- Wisata Kalbu di Masjid 1000 Tiang Jambi
- Menikmati Pesona Air Terjun Segerincing
Memang lebih enak mengendarai mobil pribadi untuk mengelilingi kompleks tersebut, tetapi bagi wisatawan bermodalkan dua kaki seperti saya ini, sebaiknya menghemat tenaga.
Ada dua pintu gerbang di Kebun Raya Bogor, sebelah kanan untuk para pejalan kaki dan sebelah kiri untuk pengendara mobil dan sepeda motor. Kami memilih ke kanan supaya tak kena sembur satpam. Sebelum membayar tiket, saya memotret pintu gerbang berdiri megah dan kokoh itu.

Rupanya tiket wisatawan domestik dan wisatawan asing dibedakan. Saya jadi bertanya-tanya. Mengapa harus dibedakan? Bukankah ada juga wisatawan asing yang kere? Ah, saya ini terlalu usil berpikirnya.
Bagi wisatawan domestik dikenai Rp. 15.000/orang dan bagi wisatawan asing dikenai Rp. 25.000/orang. Untungnya saja kami wisatawan domestik, jadi hanya membayar dengan jumlah Rp. 30.000/2 orang. Tiket tersebut sudah termasuk Museum Zoologi tetapi belum termasuk mini bus keliling. Apabila ingin mengelilingi Kebun Raya Bogor tanpa rasa betis naik, maka bisa menyewa mini bus dengan harga Rp. 25.000/orang. Akan sangat puas melihat seluruh penjuru Kebun Raya Bogor tentunya.
Kami memilih untuk memanfaatkan sepasang kaki masing-masing. Puluhan kilometer kami lalui. Sungguh kenekatan yang luar biasa buat saya yang baru saja melakukan operasi tulang belakang.
“Oh, jangan khawatir. Alarm di tubuh bisa memberi tahu saat harus beristirahat,” begitu jawaban saya saat teman ‘mencari jejak’ itu bertanya.
Teman saya itu mengenal banyak tempat wisata di Jakarta karena saya. Biarpun saya tak lagi mengenal transportasi di ibukota ini, namun jiwa petualangan saya menuntun ke arah tujuan.
“Don’t worry. Sekarang bukan jamannya peta buta, tetapi google map. Kemungkinan kecil akan salah jalan.”
Zaman sudah berubah. Seiring maraknya travelling, tulisan-tulisan para blogger pun berserakan. Tinggal klik salah satunya. Mana yang suka dan bisa dipercaya. Ada banyak tempat indah di Indonesia, mengapa kita hanya diam di rumah bagai katak dalam tempurung?
