Wednesday, May 19, 2021
Home > Literasi > Opini/esai > Kenapa Saya Suka Batik (Lawasan)?

Kenapa Saya Suka Batik (Lawasan)?

Batik lawasan (foto: griya ageng)

Sayapun tak tau jawabannya…

Yang saya ingat hanyalah, jauh sebelum pemerintah mencanangkan untuk mencintai batik, saya sudah mulai menggunakannya. Jauh sebelum UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia, saya sudah jatuh hati padanya. Di apapun atau dimanapun dia diaplikasikan, dibaju, gordyn, tas, atau dipernik-pernik rumah tangga, saya selalu suka batik.

Saya ingat beberapa tahun lalu, ketika menggunakan rok batik ke kantor, beberapa teman kantor berkomentar “Mau tidur ya?”. Dulu, pertanyaan dan komentar seperti itu sudah biasa saya dengar.

Dan ketika akhirnya saya memutuskan berhenti untuk kerja, profesi yang saya pilih selanjutnya adalah bakoelan alias jualan batik, tidak jauh-jauh dari hobi saya. Semoga hobi yang membawa berkah dan keuntungan. Sayangnya, berbisnis berdasarkan hobi ada kelemahannya, tak jarang baju-baju yang seharusnya dijual akhirnya menjadi koleksi pribadi, karena tak mampu menahan nafsu untuk tidak memakainya.

Salah satu jenis batik yang menjadi favorit saya adalah batik lawasan, apalagi kalau berbentuk kain perca yang dijahit satu persatu, biasa disebut patchwork. Sebagian orang yang saya kenal, menganggap batik lawasan sebagai produk yang tidak menarik, kurang bernilai bahkan ada yang menganggap tidak layak pakai, ini dikarenakan warnanya yang pudar dan lusuh. Malah pernah ada yang bilang “Haduh, kain buat lap kompor kok dipakai sih?!” Menurut saya, justru disitulah letak keunikannya, warna yang pudar dan terkadang ada sedikit bolong-bolong kecil dikainnya akibat termakan usia. Namanya saja  lawasan, yang kurang lebih artinya lama. Ya, batik lawasan memang batik lama atau bekas yang didaur ulang menjadi produk baru. Yang patut membuat bangga adalah, pengguna batik lawasan kebanyakan adalah turis-turis asing.

Facebook Comments