Apabila saya melewati jembatan itu, maka akan cepat sampai di area Teratai Raksasa dan Griya Anggrek. Saya memilih untuk melintasi kembali jalan yang sama saat menuju Jembatan Merah dan Pohon Jodoh. Tak disangka, sepanjang jalan menuju kedua tempat itu ada kompleks makam keramat. Saya mengajak untuk menunaikan ibadah salat di situ.
“Ah, salat kok di makam,” teman saya menolak.

Akhirnya kami melanjutkan menuju kompleks taman Teratai Raksasa yang di sana berdiri sebuah tugu yang baru saja ditegakkan yaitu Tugu Dua Abad Kebun Raya Bogor. Rupanya kebun itu telah berusia 200 tahun. Saya tak menyiakan momen ini untuk mengabadikan gambar tugu itu.

Sungguh wajah Kebun Raya Bogor saat ini sudah jauh berbeda dari saat pertama kali saya mengunjunginya. Lebih tertata rapi. Sembilan tahun lalu, saya tak merasakan chemistry pada pemandangan Kebun Raya Bogor yang kesannya tak terawat. Saya jadi penasaran, siapakah presiden yang memerintahkan untuk mempercantik Kebun Raya peninggalan Gubernur Jenderal Stamford Raffles itu? Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau Presiden Joko Widodo? Maaf, saya sedang malas untuk googling. Mungkin Sahabat Puan bisa membantu?
Kunjungan saya kali ini sangat puas dengan ‘wajah baru’ Kebun Raya Bogor. Terlebih lagi, untuk mencapai ke sana, saya hanya perlu merogoh kocek Rp. 20.000/orang untuk transportasinya. Tak sampai 100 ribu, kami mengeluarkan uang. Bukankah itu liburan yang murah meriah?
Sahabat Puan ingin mencobanya? Ayo buruan sebelum habis liburan sekolah tahun ini.
