Dibawah nauangan Museum Siginjei, Museum Gentala Arasy juga merupakan museum khusus terkait dengan jejak Islam di Jambi. 2015, museum ini diresmikan dan mulai dibuka untuk umum. Tiga museum tersebut, merupakan pilar masa lampau yang sarat makna.
Beragam upaya yang dilakukan museum-museum tersebut untuk meningkatkan minat pengunjung. Seperti yang dilakukan Museum Siginjei sejak 1991 sudah melaksanakan gerakan museum masuk sekolah. Hingga saat ini sudah seluruh sekolah dari tingkat TK, SD, SMP dan SMA yang dikunjungi. Masgia, Kasi Pengembangan dan Publikasi menyebutkan ini merupakan salah satu langkah untuk mendekatkan para generasi muda dengan sejarah dan kebudayaan. Berkolaborasi dengan sekolah, Masgia juga menambahkan berkali-kali telah mengupayakan agar kunjungan ke museum ini menjadi bagian dari pelajaran muatan lokal, namun hingga saat ini usulan tersebut belum juga disetujui.
Pameran, merupakan salah satu upaya yang ditempuh museum dalam meningkatkan jumlah pengunjung, Museum Perjuangan Rakyat Jambi memilih cara ini karena lebih mudah dan terjangkau. Mudzakir Kasubag Museum Perjuangan Rakyat Jambi mengatakan pameran adalah kegiatan rutin yang mereka lakukan, baik dalam bentuk pameran tetap di dalam museum, maupun pameran di luar ruangan. Mudzakir menambahkan, pengelola museum dituntut untuk selalu berinovasi dan kreatif.
“ Ke depan kita ingin museum ini menjadi salah satu pilihan wisata edukasi yang ada di kota Jambi, sehingga museum layaknya bisa ditambahkan dengan tempat bermain dan permainan yang berhubungan dengan koleksi. Misalnya tema-tema perjuangan, kita bisa buatkan souvenir-souvenir untuk anak-anak,” jelasnya.

Minim Dana Pengelolaan
Sejak pengelolaan museum beralih ke daerah, maka diakui pengelola museum baik Museum Perjuangan dan Museum Siginjei mendapatkan dana yang minim untuk pengelolaan dan perawatan. Masgia menyebutkan jika bisa diumpamakan dana yang didapatkan terkait dengan operasional jauh dari kata cukup.
“ Kami kalau ibarat anak, adalah anak yang tahu diri, jadi dana operasional yang kami dapatkan setiap tahunnya jika tidak penuh ke atas, cukup di bawah. Beberapa anggaran dana operasional kami dipangkas. Dan untuk melakukan event-event juga terbatas,” katanya.
Dampak kurangnya dana juga tidak jauh berbeda dengan Museum Perjuangan Rakyat Jambi, hingga saat ini museum belum memiliki ruang khusus untuk konservasi. Mudzakir mengatakan laboratorium dan ruang konservasi merupakan ruang wajib guna fungsi museum sebagai perlindungan.
