Monday, May 10, 2021
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Jelajah Kota yang Tak Mengenal Kata Tua

Jelajah Kota yang Tak Mengenal Kata Tua

Jelajah Kota Tua

Kakiku melangkah ke Stasiun Cikini, kemudian naik kereta menuju ke Stasiun Kota. Rasanya sudah lama tak menaiki kereta tersebut untuk sejenak menyapa Kota Tua di ujung utara Jakarta. Terakhir sepasang kaki ini menginjakkan tapaknya di Kota Tua pada medio 2008. Sudah lama bukan?

Sekitar 45 menit tiba ke stasiun akhir di Jakarta Utara. Gedung yang megah masih mengingatkan saat pertama kali ke sana, meskipun beberapa ada yang mengalami perubahan. Tentu saja, mesin-mesin reservasi online dahulu belum berdiri sekokoh sekarang. Pengguna kereta bisa melakukan transaksi sendiri tanpa bantuan petugas apabila memiliki kartu yang ada layanan khususnya. Bagi saya yang bukan pengguna tetap, maka bantuan petugas sangat dibutuhkan.

Keluar dari Stasiun Kota, saya melangkah sekitar 500 meter untuk sampai ke bangunan utama nan bersejarah di Kota Tua yakni Museum Fatahillah. “Oh, berubah sekali wajah Kota Tua yang dulu pernah aku sambangi,” begitu batin saya.

Tentu saja sangat berubah. Dahulu Kota Tua belum terawat sepenuhnya, terutama bagian sekitar lorong sebelah kanan Cafe Batavia. Sangat tidak terawat bangunannya dan saya pun masih memiliki dokumentasi bangunan itu. Saya dahulu sempat memanjat dinding berteralis bangunan itu untuk memperoleh pose maksimal.

Saya memandangi seluruh penjuru halaman Museum Fatahillah. Ada beberapa pohon yang sudah ditumbangkan. Sayang sekali. Pohon-pohon itu diganti dengan pemandangan pengunjung yang bersepeda kesana-kemari dengan menggunakan topi ala Abad Pertengahan. Sepeda dan topi itu disewa dari pemiliknya yang memang mencari nafkah dengan cara tersebut.

Tak hanya berpuas dengan pose di halaman Museum Fatahillah, saya pun masuk ke museum yang dahulunya merupakan Gedung Gubernuran masa Pemerintah Kolonial Belanda. Tiketnya sangat murah, hanya 5 ribu rupiah.

Facebook Comments