Namun produksi pupuk kompos tersebut tidak serta-merta menghasilkan uang, tidak ada yang membeli pupuk kompos produksi mereka. Mereka menggunakan pupuk kompos hanya untuk kebutuhan sendiri. “Ada yang menggunakan untuk tanaman kelapa sawit tua, dan hasil panen bisa meningkat hingga mencapai 2 ton setiap dua minggu. Tapi ini tidak berpengaruh pada kami yang tidak memiliki kebun sawit , yang hanya bergantung pada program integrasi sapi sawit dan usaha kompos dari kotoran sapi ini,” jelasnya.
Hingga akhirnya ada permintaan pupuk dari perusahaan yang ada di sekitar desa mereka. Delapan petani ini berjuang keras untuk memenuhi target awal pupuk yang dibutuhkan perusahaan. Mesin pencacah sawit yang tadinya digunakan untuk membuat pakan ternak beralih fungsi menjadi mesin pembuatan kompos. Oktober 2016, LKMA Mitra Usaha Mandiri berhasil memenuhi kebutuhan pupuk yang dipesan perusahaan. Sekaligus menjadi kontrak kerjasama pupuk bagi perusahaan selama kurun waktu 5 tahun mendatang. Usaha produksi pupuk kompos pun menggeliat, dibutuhkan banyak tenaga kerja untuk bisa memenuhi permintaan perusahaan.
Tidak hanya itu, teknik pembuatan pupuk harus sesuai dengan standar yang diinginkan. Pupuk kompos yang awalnya masih kasar serta campuran yang tidak memiliki takaran pasti . LKMA Mitra Usaha Mandiri pun dibina beberapa instansi terkait, Bank Indonesia bekerjasama dengan LPPM Universitas Jambi melakukan pembinaan pembuatan pupuk kepada para petani.
“Kami dilatih dalam membuat pupuk kompos yang sesuai dengan standar, misalnya campuran abu, kotoran sapi, pelepah sawit, hijau-hijauan, serta gula, mikroorganisme dan air. Dibutuhkan 30 persen campuran kotoran sapi dan abu. Sementara pelepah sawit dan hijau-hijauan (baca rumput-rumputan dan sampah daun) sebanyak 20 persen, air dan gula sebanyak satu liter untuk setiap kilo gram nya. Untuk packing kami juga mendapat pelatihan, awalnya hanya berupa karung yang diikat tali plastik seadanya sekarang packing nya sekarang sudah lumayan rapi,” ujar Supari.
Produksi pupuk kompos LKMA Mitra Usaha Mandiri mengalami kemajuan pesat, dalam kurun waktu Oktober 2016 – Februari 2017, mereka sudah memproduksi hingga 600 ton pupuk dan mampu mempekerjakan 50 orang warga desa. 48 orang bekerja di bagian produksi pupuk dan dua orang sebagai buruh bongkar muat.
“Harga jual pupuk saat ini Rp 1.135 per kg nya. April, kami menargetkan produksi 1000 ton pupuk. WKS mau menerima produksi hingga 3000 ton per bulannya secara bertahap. Bahkan kami sekarang sudah mampu membayar gaji pegawai di bagian produksi pupuk sebesar Rp 3.000.000 per bulannya. Sementara untuk buruh bongkar muat dibayar per mobil Rp 100.000 ,” ujarnya.
