Wednesday, May 19, 2021
Home > Lingkungan > Para Perempuan Rumah Kopi

Para Perempuan Rumah Kopi

Para Perempuan Rumah Kopi

Wajan berukuran besar terlihat penuh berisi biji-biji kopi warnanya kecokelatan. Tungku dengan api yang sangat kecil menghasilkan aroma kopi  disangrai pada sebuah dapur sederhana ala kampung yang terbuat dari kayu. Tiga orang perempuan secara bergantian mengayun sebuah sendok panjang berujung lancip yang biasa terbuat dari kayu atau besi. Gerakan mereka seperti menari, menganyun berirama dan sesekali terdengar suara cekikikan menambah syahdunya sangraian kopi pagi ini.

Biasanya menyanggrai kopi dilakukan setiap minggu di Rumah Kopi. Rumah Kopi, merupakan unit pengolahan kopi dan kulit manis yang berada di Desa Madras dan Desa Baru. Ini adalah bentuk dukungan proyek OPAL dalam menghasilkan kualitas kopi premium sehingga petani mendapatkan penghasilan yang jauh lebih baik.

Pengelolaan Rumah Kopi di kedua desa ini dipegang oleh kelompok perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT). KWT di Desa Muara Madras kemudian kelembagaannya berkembang menjadi koperasi dengan nama Koperasi Amanah Madras Sejati.

Secara umum keterlibatan perempuan dalam pengelolaan lahan di Merangin cukup tinggi. Para perempuan biasanya ikut berladang bersama laki-laki. Dalam konteks perbaikan teknik budidaya kopi yang didorong oleh proyek OPAL, dilakukan bersama-sama antara perempuan dan laki-laki. Pengelolaan Rumah Kopi oleh perempuan diharapkan dapat meningkatkan partisipasi aktif perempuan dalam pengelolaan sumberdaya alam serta berkontribusi pada peningkatan ekonomi, khususnya perempuan.

Darma Julita Ketua Koperasi Amanah Madras Sejati menyebutkan mereka sudah memproduksi olahan serbuk jahe, kayu manis steak dan kopi dalam kemasan biji maupun bubuk. “Koperasi ini didirikan Juni 2016, dan sudah ada 37 anggota petani perempuan. Awalnya hanya 15 orang. Kami setiap bulannya meproduksi kopi bubuk hingga 300 kilo gram kopi serbuk untuk kebutuhan pasar lokal saja di Bangko,”sebutnya.

Facebook Comments