Wednesday, May 19, 2021
Home > Lingkungan > Desa Kompos Pertama di Jambi

Desa Kompos Pertama di Jambi

Beberapa perempuan silih berganti membawa tumpukan kotoran sapi mengunakan angkong (puan.co).

Beberapa perempuan silih berganti membawa tumpukan kotoran sapi mengunakan angkong (gerobak sorong beroda satu) menuju dapur pembuatan kompos. Bau menyengat menyeruak, namun tak menyurutkan semangat para perempuan tersebut bekerja. Sebelum sebuah truk besar datang mengambil berkarung-karung pupuk kompos yang sudah siap dibawa ke sebuah perusahaan HTI di sekitar Desa Dataran Kempas Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Beberapa laki-laki telah siap mengangkat dan menyusun karung-karung pupuk tersebut. Begitu rutinitas di sebuah pabrik pembuatan pupuk kompos yang baru enam bulan ini beroperasi.

Rumah kompos yang terbuat dari kayu (puan.co).
Rumah kompos yang terbuat dari kayu (puan.co).

Berada di lahan seluas dua hektar yang merupakan lahan swadaya, terlihat jejeran kandang sapi dan sebuah rumah kompos yang terbuat dari kayu. Sementara di sampingnya bertumpuk-tumpuk karung pupuk kompos yang siap digunakan. Setiap harinya ada empat hingga lima mobil truk milik perusahaan mengambil pupuk-pupuk tersebut. Setiap mobil mengangkut enam ton pupuk yang sudah di packing maupun bahan pembuatan pupuknya. Pabrik pengolahan pupuk kompos yang dikelola LKMA Mitra Usaha Mandiri tersebut sudah mampu mengumpulkan pemasukan hingga Rp 80.871.580,-.

Awalnya, melalui program APBN Provinsi Jambi. 2013, para petani mendapatkan bantuan sebanyak 25 sapi, namun hampir separuh sapi sakit dan mati. Mereka pun menjadi patah semangat untuk melakukan perawatan dan penggemukan sapi. Hingga akhirnya mereka berpikir bagaimana agar sapi-sapi ini tidak hanya bernilai pada dagingnya saja tetapi juga limbahnya.

Supari (37) selaku sekretaris Kelompok Tani Mekar Jaya mencoba melakukan usaha lain guna menambah pemasukan keluarga dengan mengolah kotoran sapi dan limbah dari perkebunan sawit yang sudah tua. Supari bersama Suyadi kakaknya sekaligus ketua Kelompok Tani Mekar Jaya mengajak anggota kelompok lain yang mau bergabung. Hanya delapan orang yang mau ikut dalam ide ‘gila’ tersebut. Supari menyebutnya, ini adalah ide gila karena dia tidak menguasai betul bagaimana pembuatan pupuk kompos, yang dia pahami biasanya kotoran sapi secara langsung ditabur di batang tanaman kelapa sawit demikian pun dengan pelepah sawit yang banyak dijumpai di sekitar desanya.

Facebook Comments