Monday, May 10, 2021
Home > Lingkungan > Suara Gugatan Perempuan Korban Lapindo: Apa yang Terjadi pada Tubuh Kami? Di Mana Tanggung Jawab Negara?

Suara Gugatan Perempuan Korban Lapindo: Apa yang Terjadi pada Tubuh Kami? Di Mana Tanggung Jawab Negara?

Selasa (29/5) Puluhan korban Lapindo yang didominasi kaum perempuan mendatangi titik 25 tanggul penahan lumpur Lapindo dalam Peringatan 12 tahun semburan lumpur Lapindo.  Mereka menyerukan gugatan bahwa problem penuntasan kasus Lapindo masih jauh dari kata selesai. Sambil membawa foto dan hasil pemeriksaan kesehatan yang mereka lakukan sebelumnya, para korban Lapindo ini hendak menunjukkan bahwa ada persoalan kesehatan serius yang selama ini luput dari perhatian pemerintah dalam penuntasan kasus Lapindo.

Menurut Koordinator aksi, Harwati, sampai sekarang urusan kasus Lapindo selalu hanya berhenti di urusan penyelesaian ganti rugi korban Lapindo, padahal urusan hak-hak korban yang hilang pascasemburan lumpur Lapindo hingga sekarang masih banyak yang belum terselesaikan.

“Ada banyak kasus kehilangan hak korban Lapindo yang sampai sekarang tidak pernah mendapat perhatian pemerintah, dalam urusan kesehatan misalnya, banyak sekali muncul gejala-gejala penyakit berat, seperti kanker, jantung, dan ISPA yang sekarang harus diderita oleh korban Lapindo, sementara tidak ada sama sekali jaminan kesehatan yang dikhususkan untuk korban Lapindo. Ini menyebabkan korban Lapindo harus mengeluarkan biaya ekstra untuk ongkos kesehatan mereka di rumah sakit,” terang Harwati lebih lanjut.

Salah satu persoalan penyebab meningkatnya kasus kesehatan yang diderita korban Lapindo adalah akibat degradasi kondisi lingkungan di wilayah semburan lumpur Lapindo. Rere Christanto, Direktur WALHI Jatim, menyebutkan menurut penelitian yang telah dilakukan sejak 2008, WALHI Jatim menyimpulkan bahwa tanah dan air di area sekitar lumpur panas mengandung PAH (Polycyclic Aromatic Hydrocarbon) hingga dua ribu kali di atas ambang batas normal. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menyatakan bahwa PAH adalah senyawa organik yang berbahaya dan bersifat karsiogenik (memicu kanker). Menurut laporan tim kelayakan permukiman yang dibentuk Gubernur Jatim, level pencemaran udara oleh hydrocarbon mencapai tingkat 8 ribu – 220 ribu kali lipat di atas ambang batas.

Facebook Comments