Wednesday, May 19, 2021
Home > Literasi > Resensi > Warkop DKI Reborn: Nostalgia yang Tak Lucu Lagi

Warkop DKI Reborn: Nostalgia yang Tak Lucu Lagi

Warkop reborn 2

Saya telah menonton film Warkop DKI Reborn part 1 dan 2. Tak banyak senyum yang mampir di bibir saya. Ada yang kurang dari penggarapan film ini, yaitu dari segi cerita yang kesannya garing. Terlebih lagi pada adegan-adegan di part 2 yang kesannya monoton sekali, yakni memunculkan cuplikan-cuplikan film yang menurut saya bukan lelucon yang baru. Berpindah dari adegan film satu ke adegan lainnya, dari film Rhoma Irama hingga film Suzana.

Ide cerita pencarian harta karun pun kurang seru karena sangat mudah ditebak dan terlalu pendek. Durasi 2 jam untuk film bioskop tidak terisi penuh oleh adegan-adegan film. Malahan saya disuguhi iklan film-film horor di awal penayangan dan di akhir disajikan adegan NG (No Good). Meski begitu, saya heran dengan perolehan angka penonton yang mencapai angka 3 juta. Apakah penonton Indonesia memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap film ini?

Saya secara pribadi menonton film ini bukan karena ingin menonton, tetapi karena tak ada pilihan film lain. Para penggemar 3 sosok lelaki lucu yang cukup melegenda di jagat dunia komedi Indonesia menjadi daya tarik tersendiri. Penonton pasti berharap bahwa Warkop DKI Reborn akan sama lucunya dengan film-film lawas Warkop DKI. Saya pun berharap begitu.

Baca juga: Sang Pendobrak Zaman: Ulasan tentang Film Kartini Karya Hanung Bramantyo

Kalaupun bukan karena sosok Dono, Kasino dan Indro sebagai penarik minat para penonton, kemungkinan adalah sosok pemeran ketiga tokoh itu yakni Tora Sudiro, Vino G Bastian dan Abimana Aryasatya. Ketiga pemain muda kawakan itu tak bisa diremehkan dalam dunia perfilman Indonesia. Saya sudah menonton beberapa karya sineas anak bangsa yang menampilkan kemampuan akting mereka.

Facebook Comments