Wednesday, May 19, 2021
Home > Literasi > Opini/esai > Berhentilah Nyinyir, Perempuan

Berhentilah Nyinyir, Perempuan

pasukan perempuan-perempuan nyinyir yang langsung kepo.

Begitu ada teman yang baru lahiran, datanglah pasukan perempuan-perempuan nyinyir yang langsung kepo. Alhasil berjejer pertanyaan di media sosial, “lahirannya normal atau sesar”, penting banget ya lahiran normal atau melalui operasi. Penting banget ya membanding-banding hal tersebut. Halo, jika kamu terlalu sibuk dengan urusan orang lain, itu tandanya kamu tidak bahagia dengan kehidupanmu sendiri. Sebaiknya kamu mencari kebahagianmu sendiri dech, daripada mengusik kebahagiaan orang lain. Karena kamu tahu, perempuan mau melahirkan normal atau sesar dia tetaplah seorang ibu. Dan mungkin dia sudah menunggu momen itu sudah sangat lama, tapi pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting itu merusak sedikit kebahagiaannya. Dan tentu saja sahabat puan harus terus mengasah empati, agar banyak perempuan lain yang tidak seberuntung itu tidak sedih dengan kenyinyiran-kenyinyiran yang juga tidak penting. Setelah lahir dan bertanya macam-macam, dan berkomentar macam-macam, kenyinyiran masih terus berlanjut. Ini anaknya ASI atau susu bantu, ih.. kalau susu bantu, anak sapi dong. Atau ada yang menyombongkan diri tapi merusak kebahagiaan orang lain dengan bilang “Alhamdulillah, anak-anak aku ASI semua loh.” Penting nggak sih berujar aneh-aneh tanpa memberi solusi, membantunya. Saya ibu dari tiga anak dan pejuang ASI. Tapi tidak semua perempuan bisa seberuntung sahabat puan dengan keluarga yang mendukung, lingkungan yang mendukung dan tentu saja suami yang mendukung. Saya menyaksikan sendiri seorang tetangga yang isterinya baru melahirkan, tapi suaminya seolah-olah tidak peduli. Dan itu menjadikan semua membuat tidak ada setetes ASI pun yang keluar bagi anaknya, dia depresi belum lagi hadirnya perempuan-perempuan nyinyir yang membuat dirinya semakin bertengkar. Kita tahu kalau konsultan-konsultan ASI tidak lah begitu membumi, bahkan di beberapa rumah sakit dengan sengaja memberikan susu sapi dengan kontrak-kontrak dari beberapa produsen susu ternama. Jika dirimu tidak nyinyir pun sebenarnya sudah membuat ibu-ibu ini merasa bersalah. Merasa tidak sempurna menjadi ibu, merasa tidak berbuat banyak untuk anaknya. Jadi mohon jangan tambah perasaan bersalah mereka. Berbeda loh, orang-orang yang berusaha untuk mendukung dan membantu dengan orang-orang yang hanya nyinyir. Sebaiknya kita masuk pada golongan yang memang ingin membantu dan mendukung sahabat, kenalan, tetangga dan keluarga kita untuk menjadi ibu yang bisa memberikan ASI. Tak perlu nyinyir, tanpa berbuat. Jika sahabat puan tidak bisa berbuat sebaiknya tidak perlu nyinyir, karena terkadang semboyan diam itu emas juga dibutuhkan untuk hal-hal seperti ini.

Facebook Comments