Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Resensi > Manifesto Sosial: Humanisme di Luar Batas

Manifesto Sosial: Humanisme di Luar Batas

Manifesto Sosial Humanisme di luar batas1

Pertama kali melihat buku ini, saya kira isinya hanya akan membicarakan kemalangan tanpa menyinggung percintaan sedikit pun. Namun setelah membacanya, prediksi tersebut salah. Novel berjudul Orang-Orang Malang adalah novel permana Fyodor Dostoevsky yang terbit pada Januari 1846. Novel ini ditulis selama sembilan bulan ketika Dostoevsky berusia 24 tahun. Orang-orang  pertama terdekat yang dipinjami naskah ini tak bisa berhenti membaca sebelum menyelesaikannya hingga pukul empat pagi, naskah ini konon mampu membuat pembaca pertama itu bercucuran airmata. Mereka menganggap bahwa Dostoevsky adalah “The next Niikolai Gogol”.  Mereka percaya bahwa novel ini sangat dipengaruhi oleh Gogol. Bahkan, Vissarion Belinsky, kritikus sastra paling berpengaruh pada saat itu, ikut pula memujinya.

Charlotte Hobson pernah mengatakan bahwa saat ia menelaah perbedaan antara tulisan Gogol dan Dostoevsky, menurutnya, pendekatan yang digunakan Dostoevsky dalam karyanya yang pertama ini sangatlah berbeda dengan gaya pendekatan Gogol. Gogol tergelincir ke dalam dunia fantastik berisi impian indah dan buruk. Sementara Dostoevsky sudah menetapkan wilayah yang akan digarap sepanjang hidupnya, bahwa ia berjanji akan menjadi penulis Rusia yang paling banyak dibaca orang di dunia dan benarlah perkataannya itu. Orang-Orang Malang telah menjadi contoh tipikal studi atas Dostoevskian: suatu potret psikologis tajam atas manusia yang keadaannya kepepet sampai hampir tak tertahankan olehnya.

Novel Orang-Orang Malang merupakan genre epistolery novel, yakni novel yang berisi surat-menyurat antara Makar Devushkin  – seorang juru tulis miskin berusia paruh baya di kantor milik negara – dan Varvara Dobroselova  – perempuan berusia akhir belasan tahun. Novel ini diterjemahkan dengan sangat baik, meski ada beberapa kerja editor yang belum tuntas sehingga mengecewakan pembaca. Masih ada beberapa kata yang salah ketik dan telah saya tandai jumlahnya lebih dari lima.

Kisah dibuka dengan surat yang ditulis oleh Devushkin untuk Varvara. Surat-surat yang mereka tulis berisi tentang banyak hal: rahasia, kekonyolan, kenyinyiran terhadap kaum borjuis, serta hal-hal yang alegoris dan terkadang liris. Devushkin sendiri adalah lelaki paruh baya yang sering mabuk dan hampir setiap hari menderita sakit kepala. Ia menderita pelbagai kemalangan yang nyaris membuatnya gila. Mulai dari kesulitan ekonomi hingga tertolaknya ia di lingkungan karena kemiskinannya.

Devushkin memang sangat miskin sehingga untuk makan dan membayar sewa apartemen ia seringkali kesulitan, sampai pernah suatu malam ia tak diizinkan tidur di dalam kamar karena tak mampu membayar sewa. Pakaiannya compang-camping, telapak sepatu botnya hampir lepas dan bolong tanpa tambalan. Kancing-kancing pada bajunya kadangkala jatuh ke lantai karena benang-benang yang melingkupinya sudah sangat rapuh. Namun ia sangat pemurah dan rela mengorbankan segalanya untuk kekasihnya, Varvara. Ia tak segan-segan mengirimkan barang-barang mewah untuk Varvara meskipun Devushkin harus meminjam uang dan menerima penolakan-penolakan atas itu. Varvara yang bekerja sebagai pembantu sering pula menolaknya, namun tetap saja Devushkin melakukannya dengan senang hati. Ia bahkan rela menjual baju-baju bagusnya demi membahagiakan Varvara.

Translate »