Devushkin memang sangat menjunjung tinggi humanisme, namun hal ini tentu sangat miris dan berada di luar batas nalar. Seseorang yang dalam kebangkrutan masih mau mengorbankan dirinya untuk orang lain. Tak lain tak bukan demi perasaan cinta yang melimpah ruah. Varvara sendiri merupakan anak yatim yang juga miskin. Mereka tinggal berdekatan, namun jarang sekali melangsungkan pertemuan sebab mereka belum siap pada tanggapan orang-orang sekitar yang akan mengetahui hubungan mereka.
Uniknya, dalam penulisan surat, nama Devushkin disebut Varvara sebagai Makar Alexeyevich dan nama Varvara disebut Devushkin menjadi Varvara Alexeyevna. Jika kita menilik rumus penamaan dalam bahasa Rusia, biasanya kata kedua dalam nama adalah identitas nama ayah. Jika anak perempuan, setelah nama ayah bisa ditambah ovna/yevna/ichna+ nama marga – ova, sedangkan anak laki-laki, pada nama ayah bisa ditambah ovich/yevich/ich+ nama marga – ov. Jadi, Varvara Alexeyevna berarti: Varvara (identitas nama), Alexeyevna (adalah nama ayah), namun tidak disertai marga. Untuk nama lengkap dalam bahasa rusia biasanya terdiri atas tiga kata. Barangkali Varvara adalah seorang yatim yang sangat merindukan kasih sayang seorang ayah. Bisa jadi, kisah asmara yang ia jalin dalam dunianya adalah cara lain Varvara dalam pencarian sosok keluarga yang sangat ia idamkan.
Varvara sangat senang menulis surat-surat kepada Devushkin sebab baginya, menulis adalah obat untuk mengatasi diri dari ketakutan. Ia sangat ingin menjadi penulis dan menyukai buku-buku sastra. Mereka membicarakan Pushkin dan Gogol. Dalam hal ini, saya tiba-tiba teringat Haruki Murakami. Dalam beberapa tulisannya, Murakami juga sering menyebut-nyebut tokoh idola “Penulis Jepang”, misalkan Yasunari Kawabata, Yukio Mishima, Kazuo Ishiguro, dll. Semangat kebangsaan yang dibangun Dostoevsky barangkali menginspirasi banyak pembaca. Atau mungkin ini hanya kebetulan belaka?
Saya sungguh terkesan dengan gaya penulisan Varvara yang sangat feminim. Dostoevsky berhasil memunculkan roh perempuan yang benar-benar hidup dan tertinggal di hati saya. Benarlah bahwa Dostoevsky adalah penulis piawai yang patut diacungi jempol. Meski ia bukanlah seorang androgini, atau bila meminjam terminologi Virginia Woolf dalam esai-esai feminisnya, Dostoevsky tampaknya bukanlah seorang man-womanly.
Yang paling tampak sekaligus miris dan mengiris adalah manifesto sosial yang dimunculkan Dostoyevsky dalam diri Devushkin. Ia memang seorang miskin yang dideru dera kemiskinan dan kemalangan sehingga beberapa kali ia dipermainkan oleh orang-orang borjuis yang merasa dirinya mulia. Beberapa hal yang hingga saat ini masih bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari bahwa orang-orang borjuis selalu mengukur sesuatu berdasarkan uang sehingga beberapa kali pula Devushkin terjebak dalam kebingungan, penderitaan, ketakutan yang mencekam, yang sering membuatnya merasa kehilangan harga diri. Ia juga sering tertekan dalam kemalangan, tersiksa, dan dihinakan oleh nasib yang seringkali mengingkari dirinya sendiri. Satu hal yang membuatnya bersemangat untuk hidup: Varvara.
