TEPAT pukul 04.30, rumah-rumah mulai diterangi cahaya api. Rumah kayu dan rumah anyaman bambu itu tampak seperti lampion-lampion yang siap diterbangkan. Kemudian suara lengkingan seriosa mulai menggema di setiap rumah, menjadi gumpalan udara yang membumbung tinggi menembus langit, mengharap jatuhnya intan atau permata. Bersama lengkingan dan angin dingin, mereka meletakkan kepercayaan dan harapan.
Aku mengernyit malas. Lebih baik aku tak kembali ke tanah kelahiran yang menurutku, sinting! Telah jauh aku berlayar dan menapaki pulau-pulau, dan telah kusimpulkan, tak ada desa yang lebih disiplin dan lebih gila dari desa kami. Desa kecil di pulau terpencil. Aku senang, digelari bocah pembangkang sejak kecil. Tak seperti ketujuh kakakku yang senantiasa mengikuti tingkah orangtua kami di setiap subuh.
Nyanyian subuh. Begitu kata mereka dengan bangga. Tradisi turun temurun. Tua muda, besar kecil, seluruh penghuni desa harus membuka mata saat dinihari dan menyiapkan beberapa lampu teplok. Kemudian mereka mengelilingi lampu dengan menyatukan kedua telapak tangan persis patung Buddha. Buddha? Bicara mengenai agama, kami tak pernah tahu nama agama kami.
“Duduklah yang rapi, Le!” Mak membentak, dan aku tak berani berkutik.
Lalu mereka menarik napas.
“Subuh, subuh…, kami terjaga!
Subuh, subuh…, kami memujamu!
Subuh, subuh…, juga pada langitmu!
Subuh, subuh…, turunkan kebaikanmu!
Subuh, subuh…, makmurkan hidup kami!”
Nyanyian bernada seriosa itu menggema ke seluruh ruangan. Mereka mengulangnya berkali-kali hingga tenggorokan mereka perih. Wajah-wajah mereka tampak bangga ketika menyenandungkan nyanyian yang menurutku jauh dari logika itu. Padahal, kehidupan mereka sama saja, tetap jungkir balik di sawah, kubangan lumpur, hutan, juga menjala di sungai-sungai. Subuh atau langit tak mengubah apa pun. Tak menjadikan mereka bergelimang harta.
Kini, setelah mataku menemukan manusia beradab di luar sana, yang memiliki sebuah keyakinan yang mereka sebut agama, aku berpikir, apakah nyanyian subuh itu sebuah tradisi adat ataukah upacara sesat?
“Mak, kenapa kita harus bangun terlalu pagi?” tanyaku polos khas anak-anak.
“Le, kau mau kalah dengan ayam?”
Aku menggeleng dengan tatapan tak mengerti. Waktu itu otakku terlalu dini untuk dapat memahami kedua orangtuaku.
“Manusia adalah makhluk yang lebih sempurna dari hewan, karena diberi pikiran. Maka jangan sampai ayam yang lebih dulu bangun dari kita,” jawab Mak sembari menumpuk kayu bakar dalam tungku. Jelaga menghiasi wajahnya, namun tak dipedulikan. Ia meraih minyak tanah, menuangkannya dalam mulut tungku, lalu diraihnya pemantik.
