Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Cerita > Terkasih

Terkasih

Persaudaraan kami bisa dibilang sangat dekat. Tak ad aobrolan yang terlewatkan jika bersua,

mulai dari situasi rumah, keadaan tetangga, kerjaan, gosip artis, tren film terbaru, hingga sampai  kasus pasien di rumah sakit tempat Ita bekerja. Aku tahu, Kak Ita akan selalu ada untuk menjadi tong sampah atas semua masalahku, meski jarak yang jauh bukanlah pembatas.

***

Keadaan ekonomi rumah tangga Kak Ita dan Mas Sigit semakin mapan saja. Kelahiran Thia dan Rafli menjadi suntikan semangat bagi keduanya untuk makin giat bekerja.  Sementara aku sendiri semakin jarang pulang ke rumah. Hobi naik gunung makin menyeretku bekerja jauh ke lokasi-lokasi pedesaan.  Sampai akhirnya aku mencoba peruntungan di Jakarta, lalu hijrah lagi untuk bekerja di Kota Jambi. Kami semakin jarang berjumpa. Hingga akhirnya aku menikah dan komunikasi kami lebih banyak melalui telpon.

Saat itu Kak Ita bercerita kalau keluarga mereka berencana pindah menetap di Kota Bandar Lampung. Mas Sigit, suaminya, positif terkena hepatitis. Pekerjaannya sebagai analis di laboratorium puskesmas memang punya risiko besar terjangkit berbagai virus dan bakteri yang sehari-hari menjadi santapannya.

Rencana pindah tersebut tentu akan berdampak lebih baik pada kesehatan Mas Sigit. Sebab ia tidak perlu lagi menempuh perjalanan ke lokasi kerja yang lumayan jauh, juga lebih mudah untuk mendapatkan obat yang secara rutin harus ia minum. Cerita Kak Ita tentang rencana itu tentu saja aku sambut dengan gembira. Kalau Kak Ita pindah ke kota Bandar Lampung, setidaknya juga akan lebih dekat dan lebih sering melihat orang tua kami.

Tahun depan Thia juga sudah masuk ke SLTA. Aku juga cukup tahu bagaimana Kak Ita dan Mas Sigit sangat concern untuk kualitas pendidikan kedua anaknya. Sejak itu, aku tahu keduanya sibuk mempersiapkan usulan kepindahan. Ada saja hambatan yang mempersulit. Ketika Propinsi Bandar Lampung sudah bersedia menerima, justru kabupaten yang belum mau melepaskan. Urusan birokrasi ASN bisa dibilang cukup rumit. Namun, Kak Ita memutuskan untuk tetap mengikuti prosedur. Ia tidak mau menambah daftar kotor tentang sogok-menyogok.Aku tentu sangat setuju dengan prinsip itu.

**

“Wi, kamu gak mau pulang ke Lampung? Mama makin khawatir dengan kondisi Mas Sigit. Kalau bisa pulanglah, temani Kak Ita!”Pagi itu Mama memberi kabar lewat telpon. Sudah dua hari ini aku di kota Palembang dengan urusan pekerjaan kantor dan aku gagal pulang lagi, padahal aku telah memesan tiket pesawat.

Mas Sigit sakit sudah tiga minggu terakhir. Awalnya, ia mengeluh sakit pada bagian perut, tetapi setelah opname dan cek lengkap, vonis dokter terakhir justru membuat kami semua tidak percaya.

Translate »