Halaman: 1 2
“Pernah ada orang rimba yang kesurupan. Dukun di Makekal hulu tak mampu mengobati, maka terpaksa orang rimba tersebut mendatangi dukun di kota. Saat bertemu dukun di sana, ia takut melihat kalung yang dipakai orang rimba. Dukun tersebut akhirnya meminta kalung itu untuk dilepaskan. Dukun itu mungkin saja takut karena kalung sebelik sumpah memiliki kekuatan magis,” ungkap Penangguk dengan logat melayunya yang khas.

Pemasaran kerajinan tangan sebelik sumpah selama ini sudah dilakukan secara offline dan online. Bagi yang berada di kawasan Merangin, bisa langsung datang ke mes Sokola Rimba atau COD (Cash on Delivery) di sekitaran Bangko. Kalau via online, sudah dipasarkan melalui akun instagram dan facebook. Kalung dan gelang sebelik sumpah ini sudah ada di beberapa toko oleh-oleh khas Jambi loh, misalnya saja Tempoyak dan Jakoz yang terletak di Kota Jambi. Harga gelang dibanderol dari Rp35.000,00 untuk biji nontunggal, sementara gelang dari biji tunggal seharga Rp45.000,00. Bedanya, biji tunggal lebih lonjong dan lebih rapi dibanding nontunggal sehingga harganya lebih mahal.
Untuk harga kalung beda lagi, harga dimulai dari Rp75.000,00 – Rp100.000,00. Untuk leontin kalung pun bermacam-macam, ada yang terbuat dari tanaman khusus, taring landak, ataupun kuku harimau. Khusus leontin kuku harimau sangatlah langka, kalaupun ada harganya akan lebih mahal. Harga gelang dan kalung juga bisa lebih mahal karena unsur warna. Biasanya, yang harganya mahal adalah yang bijinya sudah berwarna hitam. Namun jika baru diambil dari buahnya, biji sebelik sumpah masih berwarna cokelat. Warna cokelat bisa berubah menjadi hitam seiring waktu berjalan.
“Bisa hitam kalau kena keringat. Biasanya orang-orang yang masuk ke hutan lebih senang mencari kalung yang telah dipakai orang rimba karena warnanya sudah berubah menjadi hitam,” ucap Penangguk.
Dari penjualan gelang dan kalung sebelik sumpah ini, Penangguk bersama komunitasnya merasa bersyukur kalau ada orang luar yang mau membeli kerajinan tangan mereka. Di leher saya pun sudah bersemayam kalung sebelik sumpah dengan leontin taring landak milik Penangguk Sunting. Namun karena kalung itu tidak terlalu panjang, saya lalu mencoba mnengkreasikannya untuk saya pakai sebagai gelang. Penangguk manambahkan bahwa taring landak itu bisa digunakan sebagai obat sakit gigi.
“Celupkan taring landak ke dalam air putih selama lima menit. Setelah itu langsung diminum saja!” ucap Penangguk. Saya pun tertawa sembari mengingat bahwa gigi saya acapkali kumat. Barangkali kelak saya akan mencoba resep tradisional ini. Tiba-tiba motor Penangguk Sunting sudah membawa saya kembali ke mes Sokola Rimba. Sebuah mobil tiba-tiba memindahkan tubuh saya untuk melanjutkan perjalanan ke kota. Suatu saat saya akan kembali ke hutan itu lagi, pikir saya sambil mengingat-ingat pengalaman baru selama di Taman Nasinal Bukit Duabelas.
