Monday, May 25, 2026
Home > Literasi > Opini/esai > IDEALITAS SUPERIORISME PEREMPUAN FIKSI DAN FAKTAWI: Pramoedya A.T. tentang Nyai Ontosoroh dan Kartini

IDEALITAS SUPERIORISME PEREMPUAN FIKSI DAN FAKTAWI: Pramoedya A.T. tentang Nyai Ontosoroh dan Kartini

kebaya indonesia

Dan adakah hubungan antara Sanikem dengan Kartini sebagai subyek yang ditulis Pramoedya tersebut? Kira-kira, apa yang melatarbelakangi, sehingga seorang Pramoedya menciptakan tokoh rekaan “fiksi” Nyai Ontosoroh yang revolutif, dan di sisi lain ia menelaah Kartini sebagai subyek tokoh faktawi yang evolutif? Di sinilah bagi saya daya tarik idealitas superiorisme perempuan fiksi dan faktawi bagi seorang Pramoedya A.T. dengan mengikonkan Nyai Ontosoroh dan Kartini yang dihidupkannya sebagai bagian dari seluruh karyanya yang senantiasa genial, tendensius, dan prestisius.

Lewat Nyai Ontosoroh dan Kartini tersebut, Pramoedya mengidealkan superioritas perempuan, sekalipun untuk itu ia harus membangun dua medium, antara fiksi dan faktawi. Sebagaimana Nyai Ontosoroh, jika perempuan tersebut lahir dalam kelas masyarakat jelata, sebagaimana Kartini jika perempuan tersebut lahir dalam kelas masyarakat feodal, dan tidak sebagaimana Simone de Beauvoir (1929); mahasiswi Universitas Sorbonne yang memproklamasikan penentangannya terhadap perkawinan, yang baginya hanyalah sebuah lembaga borjuis. Atau Virginia Woolf yang membunuh nyawanya sendiri atas nama perjuangan feminisme.

Di sini, Pramoedya menuliskan keberpihakannya terhadap Nyai Ontosoroh dan Kartini yang piawai menempatkan diri: tanpa harus menabrak nilai sosial atau menghanguskan diri sebagai yang putus asa di tengah jeram pemerkosaan nasib. Dalam sebuah paragraf Bumi Manusia, seorang Minke; tokoh pembawa pencerahan kedua setelah Nyai Ontosoroh, menyuarakan kata hatinya:

“Dan semua teman sekolah tahu, ada juga seorang wanita pribumi yang hebat, seorang dara, setahun lebih tua daripadaku. Ia putri Bupati J. Wanita pribumi pertama yang menulis …. Setengah dari teman-temanku menyangkal kebenaran berita itu. Mana bisa ada pribumi, dara pula, hanya lulusan E.L.S., bisa menulis menyatakan pikiran secara Eropa, apalagi dimuat di majalah keilmuan? Tapi aku percaya dan harus percaya, sebagai tambahan keyakinan, aku pun bisa lakukan apa yang ia bisa lakukan…. Dan di dekatku kini, ada wanita lebih tua. Dia tidak menulis, tapi ahli mencekam orang dalam genggamannya. Dia mengurus perusahaan besar secara Eropa! Dia menghadapi sulungnya sendiri, menguasai tuannya; Herman Mellema, bangunkan bungsunya untuk jadi calon administratur, Annelies Mellema…(Hal.106).

Di sini, Pramoedya berusaha menyatukan dua perempuan menjadi satu filsafat superioritas perempuan ideal, baik Nyai Ontosoroh sebagai praktisi di tataran kemanusiaan, khususnya di bidang ekonomi, sedangkan Kartini sebagai konseptor di tataran kemanusiaan, khususnya di bidang pendidikan.

Translate »