Yang fatalnya, masih ada beberapa penulisan kata yang salah ketik, seperti Kantapura yang ada ditulis Santapura (halaman 200). Ada juga nama tokoh Seenu yang kemudian salah ketik menjadi Seemu (halaman 112) dan Deenu (halaman 139). Memang, novel terjemahan ini pertama kali diterbitkan oleh PT Dunia Pustaka Jaya tahun 1997. Sayangnya, setelah penerbitan dialihkan ke penerbit KPG, ternyata tidak diperbaiki terlebih dahulu. Hal ini bisa dibuktikan di halaman IV yang memang tidak ditulisakan editor atau penyuntingnya. Malah, di bagian kiri bawah halaman ini saya menemukan sebuah pernyataan yang tulisannya begini, Dicetak oleh PT Gramedia Jambi. Isi di luar tanggung jawab percetakan.Sebenarnya, secara umum buku-buku terjemahan seri sastra dunia KPG hanya dialih cetak saja tanpa ada perbaikan ejaan.
Meski demikian, permasalahan ejaan tidak mengurangi esensi cerita yang dikemas dengan kisah-kisah menarik. Saya jadi teringat masa lalu. Masa di mana saya pernah merasa berada di antara kerumunan orang-orang yang mengagung-agungkan Mahatma Gandhi. Ah, saya jadi teringat Martin Luther King Jr dan Nelson Mandela.

| Judul Buku | : | Kantapura |
| Penulis | : | Raja Rao |
| Penerjemah | : | Hartojo Andangdjaja |
| Penerbit | : | KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) |
| Cetakan | : | Pertama, November 2016 |
| Tebal Halaman | : | VIII + 276 halaman |
