Thursday, April 2, 2026
Home > Literasi > Resensi > Sang Nasionalis Muda dari India Selatan

Sang Nasionalis Muda dari India Selatan

Raja Rao

Adat dan tradisi ketimuran, khususnya India, sangat kental terasa. Hal ini terlihat pada masyarakat yang masih mengadakan tradisi festival tahunan yang diikuti oleh masyarakat di kuil. Meskipun perbedaan kasta sangat mencolok, semua penduduk dapat bersatu dan berinteraksi melalui tradisi ini. Selain itu juga tampak pada kisah seorang remaja. Ketika remaja berusia tujuh belas tahun, maka ia akan diberi tahu rasi perbintangannya. Masa-masa itulah seorang remaja dinyatakan siap untuk menikah. Maka para orang tua akan sibuk mencarikan jodoh untuk anaknya. Sebab menikah muda dalam tradisi berarti menyelamatkan kehormatan keluarga.

Moorthy  yang dicintai oleh kaum paria lalu diundang oleh kaum brahmana untuk datang ke perkebunan kopi skeffington. Ia diminta untuk menciptakan kesadaran akan ajaran Gandhi di kalangan kuli-kuli paria. Ternyata Moorthy hanya dijebak. Ia dipukuli oleh polisi Badhe Kan. Moorthy yang depresi karena kekerasan tersebut tetap melanjutkan perjuangannya melawan ketidakadilan.

Pemerintah Inggris yang tak suka dengan gerakan kongres yang dipimpin oleh Morthy, seperti  memintal benang dan membuat garam, kemudian menuduh Moorthy menghasut warga. Moorthy kemudian dipenjara selama tiga bulan. Lalu, Rangamma membentuk korps relawan perempuan Kantapura. Rangamma yang kala itu menjadi pemimpin berhasil menanamkan patriotisme  kepada kaum perempuan, yakni dengan cara menceritakan perjalanan hidup wanita-wanita perkasa India. Mereka bersama-sama menghadapi kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh polisi, seperti penyerangan dan pemerkosaan terhadap wanita-wanita tak berdosa. Para polisi dengan kasarnya juga membakar Desa Kantapura. Ketika Moorthy telah bebas dari penjara, seluruh warga desa menyambutnya. Seluruh warga bersatu tanpa memedulikan kasta.

Terjemahan novel ini sangat bagus. Sayangnya, masih banyak terdapat istilah-istilah khas India yang kebanyakan tidak diberi catatan kaki meski sebagian memang ada. Memang, tidak semua kosakata bisa diterjemahkan dalam bahasa tertentu untuk memunculkan kekhasan suatu bahasa. Namun, ke depan penerjemah perlu memberikan penjelasan yang konkret agar pembaca tidak bingung dan menerka-nerka dengan sendirinya. Terdapat beberapa ratapan, nyanyian, ungkapan masyarakat Desa Kantapura yang ditulis dalam bentuk bait seperti puisi.

Novel yang ditulis dalam nafas panjang ini, pada tiap-tiap babnya, setting suasananya  begitu kentara. Pembaca akan diajak berpetualang dengan bermodalkan pancaindera, terutama indera pendengaran. Usai membacanya, sihir bunyi-bunyiannya masih berdenging di mana-mana. Di  awal-awal membaca, ketika pembaca tidak fokus, pembaca akan dibuat bingung tentang masalah penamaan sebab memang tidak ada ciri khas tertentu sebagai pembeda antara nama tokoh laki-laki dan nama perempuan. Berbeda dengan tokoh-tokoh dalam novel Indonesia yang sebagian besar kita bisa memahami bahwa nama tokoh tertentu adalah jenis kelamin tertentu.

Translate »