Monday, May 10, 2021
Home > Literasi > Resensi > Pacar Kecilku Telah Menunaikan Ibadah Puisi

Pacar Kecilku Telah Menunaikan Ibadah Puisi

Selamat Menunaikan Ibadah Puisi

Perkenalan dengan karya-karya Joko Pinurbo terjadi sejak tahun 2002 melalui puisinya yang populer hingga saat ini, Pacar Kecilku (hlm. 62). Saya tidak begitu paham tentang ketenaran puisi satu ini di kala itu. Yang saya tahu, seorang kakak kelas yang menjadi pembimbing di malam keakraban saat menjadi mahasiswa baru, menyodorkan foto kopian kumpulan puisi dan di dalamnya ada si Pacar Kecilku. Entah saya atau kakak kelas yang memilihkan puisi tersebut, sejak saat itu saya jatuh cinta pada si Pacar Kecilku.

Ketika membaca buku kumpulan puisi ini, saya kembali bernostalgia dengan kenangan bersama Pacar Kecilku. Rupanya si Pacar Kecilku tercipta di tahun 2001 dan menurut salah satu blog yang memakai nama judul puisi itu juga, Pacar Kecilku diciptakan oleh Joko Pinurbo untuk anak perempuannya.

Menariknya dari puisi-puisi karya mantan dosen Universitas Sanata Dharma ini, salah satunya mengenai kematian. Saat membaca ulang setelah bertahun-tahun tidak menyimaknya lagi, di baris terakhir tertulis: yang akan ia taburkan di atas jasadku, nanti. Kental sekali dengan nuansa kematian.

Kemudian beberapa unsur kematian di dalam puisi-puisi Joko Pinurbo saya temukan, seperti Celana (hlm. 14-15), Keranda (hlm. 22), Minggu Pagi di Sebuah Puisi (hlm. 28-29), Mudik (hlm. 69-20), Penumpang Terakhir (hlm. 73-74), Perias Wajah (hlm. 76-77), Bunga Kuburan (hlm. 78-79), Panggilan Pulang (hlm. 90), Celana Ibu (hlm. 123), Malam Suradal (hlm. 137), Kamar 1105 (hlm. 167-170), serta Kunang-kunang (hlm. 174-175).

Begitu pula dengan kata kuburan, berkali-kali digunakan dalam bait-bait puisinya. Ia mengingat kematian melalui deretan puisi dalam buku ini. Di antaranya, ia mendalami makna kematian di Hari Paskah. Bisa jadi, hal itu dipengaruhi oleh latar belakangnya yang menempuh pendidikan seminari untuk menjadi seorang pastur, meskipun takdir yang dipilihnya berkata lain, ia memilih menjadi seorang penyair. Jika sajak kerohanian Islam bisa ditemukan di dalam puisi-puisi Taufik Ismail, Sutardji Calzoum Bachri atau Acep Zamzam Noor, maka sajak kerohanian Kristen ada pada puisi-puisi lelaki yang biasa disebut Jokpin ini.

Baca juga: Ada Kecoak di Filosofi Kopi

Selain kematian, penyair yang memperoleh banyak penghargaan ini suka sekali dengan diksi celana dan sarung. Sepertinya, Joko Pinurbo memiliki kenangan atau kecintaan terhadap wujud celana dan sarung itu sendiri, terutamanya celana. Kadang kala, ia menggambarkan tentang makna dan isi dari celana dan sarung secara tersirat, kadang kala tersurat. Makna tersirat dari celana ada pada bait pertama puisi yang berjudul Celana 2 (hlm. 16). Ada sekitar 62 celana yang bisa ditemukan dalam 17 puisinya.

Facebook Comments