Thursday, April 2, 2026
Home > Sosok > Evan Ys: Yang Lisan adalah Teks

Evan Ys: Yang Lisan adalah Teks

Halo Sahabat Puan, selamat Senin Ceria di awal November. Kali ini redaksi akan mengajakmu berkenalan dengan seorang sastrawan perempuan asal Sumatera Barat yang kini menetap di ibu kota. Beliau menulis puisi, bermain teater, meneliti sastra lisan, mendongeng untuk anak-anaknya, dan menjadi anutan dalam keluarga. Yuk, intip kisahnya di bawah ini!

Selain menulis puisi, kerja di Badan Bahasa Jakarta, kegiatannya apa nih?

Menulis puisi bukan pekerjaan kantor. Itu hobi menulis yang telah ada sejak kecil. Jadi, bagiku menjadi PNS itu kemudian. Aku berproses sejak kecil untuk menulis. Pekerjaan kantor? Ya tentulah hal-hal standar: peneliti. Sejak awal aku sudah mengambil tempatku sebagai peneliti sastra. Kemudian berkembang dan fokus pada sastra lisan dengan kajian cerita rakyat. Ini juga belum tersentuh dengan baik.

Sebagai ibu bagi empat anak, apakah dongeng ibu sebelum tidur itu penting bagi perkembangan syaraf motorik anak? Mengapa?

Nah, ini keren. Aku terbiasa mendongeng untuk mereka. Selain mengisi waktu bersama yang tercuri oleh ruwetnya perjalanan kantor dan rumah, dongeng menjadi hal menarik buatku mengantar mereka ke alam tidur nyenyak. Bukan motorik barangkali, tetapi kekuatan mereka menyerap kata dengan pemahamannya. Kemampuan mereka berpikir lebih terpola dan terbiasa punya alternatif berpikir tentang hal yang mereka hadapi di luar rumah. Dulu aku berpola sebagai pendongeng, kemudian beralih peran: akulah yang didongengkan mereka sebelum tidur. Pola dongeng yang sama, tetapi anak-anak membuat cerita sendiri sesuai dengan kondisi yang dialaminya.

Kalau tidak salah, dulu Uni sempat mengajar yah di Unand, mengapa tiba-tiba pindah kerja? Apa masih nyambi mengajar juga? Di mana?

Ya. Sebagai dosen luar biasa. Mengajar di fakultas sastra dan mengajar Bahasa Indonesia sebagai mata kuliah dasar umum di fakultas ekonomi dan FMIPA. Juga pernah mengajar di INS Kayutanam, sekolah Sjafei yang dikelola A.A. Navis saat itu. Mengapa keluar? Sistem. Entahlah. Maka aku perlu beranjak. Sekarang mengajar jika hanya diminta mengisi kuliah umum. Tahun lalu di Universitas Borneo Tarakan, Kalimantan Utara. Tahun ini direncanakan akan mengajar di UHO Kendari, Sulawesi Tenggara. Hanya itu.

Setelah menjadi urban ke Ibukota, hal apa sih yang paling dirindukan untuk pulang kampung? Keluarga tentu saja. Orang tua, adik-adik, dan sanak saudara.

Bagaimana Evan Ys di mata keluarga, terutama ibu dan saudara perempuan? Apa arti perempuan bagi Uni Evan?

Aku anak sulung dari enam bersaudara. Mamaku perempuan hebat yang lebih jadi sahabat daripada ibu. Bagi mamaku, aku kebanggaannya. Mungkin jadi pelanjut cita-citanya pada pendidikan. Dahulu, di setiap terima rapor aku mesti mendapat rangking kelas dan itu baik buat diri sendiri. Bagi adik-adikku, aku ukuran mereka bersikap dan bertindak. Mereka belajar dariku berkata, tidak terhadap apa yang tidak disukai. Kehadiranku adalah hal yang mereka tunggu. Jadi, istilahnya “Nggak ada lo nggak rame.” Hehehe. Perempuan adalah makluk eksotis dengan segala indahnya. Akan tetapi, yang terpenting menjadi diri yang manusia. Lengkap dengan segala lebih dan kekurangannya!

Translate »