Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Cerita > Sebuah Cerita untuk Perlip

Sebuah Cerita untuk Perlip

Batu besar di pantai

Rupa ceria binaran pelangi selalu singgah mewarnai hatinya, hati si lelaki. Lebih indah dari hanya sekedar Mejikuhibiniu. Lebih, lebih banyak lagi puspawarna yang merekah di taman hatinya. Namun, sungguh dunia adalah tempat yang fana. Keindahan itu belum menjadi utuh. Manusia bisa saja maha pinta, tetapi tetap Dialah yang menguasai segala hajat. Manis tak selalu menjadi madu; jalan hidup yang berliku, nelangsa adakalanya datang membelenggu, terkurunglah rasa dalam rindu. Setelah siang pastilah ada malam. Masa indah itu akhirnya pupus jua dalam waktu.

Setamat SD gadis anggun itu akan pergi berlayar bersama dengan sebuah kapal yang anggun setara dirinya. Gadis itu akan pergi. Katanya, “aku ingin berlayar mengejar bintang yang kemilau di langit. Jikalau nanti aku telah tiba di sana, pastilah akan kukabarkan dirimu. Tunggulah daku!”

Akhirnya ia pergi, aroma tubuhnya terbawa pergi. Sepi semilir.

Sekarang, kerjaanku hanya bercerita. Sudi atau tidak aku tetap bercerita. Terlanjur. Mau bagaimana lagi.

Bagaimana lagi selanjutnya? Selanjutnya mereka berpisah atau mungkin tepatnya terpisah? Entahlah, terserahmu saja. Siang dan malam berganti, memeluk rindu yang menyakitkan hati. Rindu itu hadir setiap saat, ia datang dalam tajam lalu menyayat lehernya hingga menganga luka hitam yang sangat dalam. Bukankah memang sakit memeluk rindu kepada orang yang dicinta namun tak bisa dijumpa? Merindu dalam penantian. Menunggu. Luka itu semakin menganga. Menunggu. Masih adakah yang bisa dilakukan seseorang yang ditinggal melainkan ia hanya dapat menunggu? Mengejar? Tak perlu, dia bilang akan berkirim kabar.

Saban hari ia selalu termenung di tepi pelabuhan. Duduk di pinggiran dermaga menanti kapal anggun yang pergi itu. Menghela napas menjuntai kaki. Membuang kerikil sekehendak hati. Mendengar derung kapal, “drungg …”. Memandang kuli tak berbaju memikul karung, setengah mati lelah terhuyung. Menatap matahari senja keemasan. Teh celup di atas laut. Anak-anak yang mandi telanjang. Semilir angin berembus. Kapal-kapal yang nampak membesar. Mungkin gadis itu telah kembali? Selalu, hampir setiap hari ia sisihkan waktu untuk begitu. Dan akhirnya sang lelaki itu teguh kukuh untuk menunggu. Ia tidak pernah pulang ke rumah. Hanya menunggu. Masa depan? Merengkuh cinta hanya itulah masa depan baginya.

Kerjanya memandang kosong laut lepas. Merasakan angin dan deburan ombak. Menunggu. Keluarganya tentu saja bingung melihat keadaan sang lelaki yang menjadi begini. Tetapi masih adakah yang dapat mereka lakukan? Hendak bagaimana lagi…, begitulah akibat dari lima huruf yang bila tak berpaut akhirnya meranumkan petaka.

Translate »