Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Cerita > Sebuah Cerita untuk Perlip

Sebuah Cerita untuk Perlip

Batu besar di pantai

Seringkali setelah jenuh menatap laut, aku mulai menyisihkan waktu untuk bercerita. Aku bercerita kepada malam, kepada siang, senja, angin, awan, air, matahari, rembulan, hujan, waktu, botol hanyut, sampah yang mengapung, sebutir beras, kepada apa pun ciptaan Tuhan yang memahami rasaku. Mereka semua tersedu haru mendengar kisahku. Namun, mereka hanyalah dapat berdoa, selain itu tak berguna. Tak bisa melanjutkan cerita cintaku kepada manusia lain –apalagi menyampaikannya kepada Perlip. Kalian tentunya mahfum: berbicara dengan alam adalah anugerah manusia pilihan.

Akhirnya, aku pun memulai untuk mencoba berkisah kepada makhluk-makhluk Tuhan yang ada di sekitarku yang punya hidup bebas seperti kepada ikan-ikan, siput, kerang, kumbang, burung camar di belakang kapal, manusia, hingga makhluk lain yang tak kuketahui namanya. Aku berharap mereka akan meneruskan ceritaku hingga dapat sampai kepada Perlip.

Sungguh, aku berkata jujur perihal cerita ini. Aku ingin membagi rasa hati yang selama ini selalu aku simpan. Lebih dari itu aku juga berharap kepada semuanya agar dapat melanjutkan kembali kisah ini. Meneruskannya kepada keluarga, teman-teman, kekasih, atau apa saja…, sehingga barangkali di suatu hari kemudian gadis yang aku cintai itu bisa tahu —bisa mengerti kalau ternyata di sini, di tempat ini, hingga hari ini ada seorang lelaki yang sedetik pun tak pernah berhenti untuk mencintai dirinya. Menyesal, dulu tak sempat kugerimis-rinaikan rasa ini padanya.

Tolol? Malaikat telah mengatakannya. Namun, mungkin saja pada suatu hari kemudian di sebuah senja yang indah ketika aku sedang termenung, duduk di pinggiran dermaga menanti kapal anggun yang pergi itu. Menghela napas merenung menjuntai kaki. Membuang kerikil ke mana arah sekehendak hati. Mendengar derung kapal, “drungg….” Menatap matahari senja keemas-emasan. Anak-anak yang mandi telanjang, lantas sebuah noktah kapal yang perlahan-lahan utuh membesar ke arahku. Sebuah kapal yang anggun. Kapal yang membawa Perlip. Dan, dia kembali beserta senyum manisnya. Sebuah senyum yang tetap tak kan pudar meski raganya telah dimakan usia. Semoga, semoga saja.

Sekarang, aku selalu menyisihkan waktuku untuk bercerita. Sadar sungguh aku sadar bahwa cintaku ini seperti lautan yang luas. Lautan yang indah, menawan, teduh dan memesona, namun pada sebalik sisinya laut ini amat menakutkan karena bisa menjadi ganas tiada terkendali.

Temanku yang manis, sekarang kita akhiri dulu ceritanya. Aku ingin kembali menatap laut. O ya, esok hari maukah engkau kembali menemaniku menanti sembari kutraktir minum kopi?

Translate »