Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Cerita > Sebuah Cerita untuk Perlip

Sebuah Cerita untuk Perlip

Batu besar di pantai

Bukankah cinta itu memang tak punya mata dan para pecinta itu adalah buta? Laki-laki itu tak pernah berhenti untuk menunggu, untuk berharap, untuk kembali dapat melihat gadis itu. Setiap kapal yang singgah selalu ia harapkan gadis itu. Ingin sangat ingin ia melihatnya kembali karena hatinya ingin menjaga. Ingin melayang berkasih sayang. Ingin tinggal. Ingin berlayar bersama kapal anggun tersebut, walau nyatanya ingin tetaplah saja menjadi ingin. Mawar tetaplah saja merekah meski datangnya angin meski datangnya dingin.

Satu tahun berlalu, dua tahun berlalu –sang waktu adalah penguasa yang tak pernah bisa diajak kerjasama, dan puluhan tahun tetap saja berlalu. Lelaki itu masih di sana, masih menunggu. Tak pernah makan, tak pernah minum, tak pernah lepas memandang laut, dan juga tak mati seperti rasa cintanya yang tak pernah mati-mati kepada seorang gadis yang telah pergi. Melihat kenyataan yang terjadi ini, kadang aku merasa benar kata orang-orang tua dahulu sewaktu aku kecil: kesungguhan cinta yang mengakar di hati mampu mengalahkan segalanya bahkan tajam kematian sekalipun.

Tahun-tahun kembali berganti tanpa pernah berucap permisi. Mataku yang telah sayu terus saja memandang bebas ke laut lepas. Dari hari ke minggu hingga puluhan windu ingatanku akan raut wajah gadis itu pun perlahan memudar. Tetapi, cintaku yang terlanjur membara ini tak pernah bisa pudar. Hingga hari ini aku rasa telah hampir tujuh ratus tahun sudah kapal itu pergi. Keadaan di sekitarku sekarang telah jauh berbeda. Dulunya, di sana itu lebat oleh hutan namun kini pabrik-pabrik bertebaran; dulunya di situ ada beratus hektar sawah namun kini telah menjadi pusat belanja super megah. Ya, semuanya berganti kecuali cintaku kepadanya.

“Hmm… mungkinkah dirimu mengenaliku jikalau nanti kita bersua duhai perlipku?”

Sebenarnya pernah ada kapal-kapal menawan lain yang coba mendekat. Namun, entah mengapa kapal anggun ini tetap tak pernah pergi dari hati. Hingga hanya dia, dia dan dia. Dia yang tak pernah terganti. Hingga kini aku masih saja tetap menunggu, menanti kapal tersebut hingga akhir yang tak terjadwal. Bergeming demi dia. Demi janji dirinya.

Kalau aku mengingat jalannya waktu masa lalu, saat perlahan aku semakin tua. Selang waktu tentu jenuh bila hanya menatap ke tengah laut. Bosan pula hanya memandang tebaran mega merah muda bersemu nila setiap sore senja. Pernah waktu itu aku mengadukan nasibku kepada Tuhan. Lalu Tuhan mengajakku naik ke istana-Nya di langit. Dan aku menceritakan semua isi hatiku. Seluruh penghuni langit menangis bagai sekumpulan bayi yang lucu. Malaikat-malaikat meraung derita tak tega melihat aku yang katanya tolol terus menunggu. Bidadari jelita menggugurkan bening kristal airmatanya haru pada cerita cintaku. Tuhanku Yang Maha Pengasih nan serta Maha Penyayang pun akhirnya iba juga. Tidak, tak pernah ada kata berlebihan bila engkau merasakan cinta.

Translate »