Diksi toilet dan kamar mandi juga menjadi kata favorit lainnya setelah celana dan sarung. Ketika Jokpin baru mencuat namanya, kata ini jarang digunakan oleh para penyair. Mereka cenderung cinta kepada alam, laiknya Sapardi Djoko Damono yang sangat mencintai hujan. Saya jadi teringat dengan cerpenis yang mengangkat tema tentang toilet, Eka Kurniawan. Ia menulis cerpen Corat-Coret di Toilet dengan isi yang tak pernah dibahas oleh cerpenis lainnya. Suatu tema dari tempat kotor yang tak diminati oleh penulis. Begitulah Joko Pinurbo pun mengambil kata untuk disematkan dalam puisinya. Ada kesan monoton, tetapi itulah ciri khas seorang sastrawan. Ia harus memiliki karakter yang akan menempel seumur hidupnya. Joko Pinurbo memiliki dua ciri khas yang melekat padanya: Celana dan Pacar Kecilku. Bisa jadi Selamat Menunaikan Ibadah Puisi pun akan melekat sangat kuat pada sosoknya.
Sudah jamak pula, bahwa seorang sastrawan membuat tanda mata untuk sesamanya. Joko Pinurbo membuat tanda mata untuk para penyair kenamaan seperti: Sapardi Djoko Damono (Rumah Kontrakan, hlm. 71-72) dan Hasan Aspahani (Puasa, hlm. 152). Secara khusus Joko Pinurbo menyematkan puisi Sapardi Djoko Damono “Pada Suatu Pagi Hari” dalam paragraf-paragraf puisi berjudul Laki-laki Tanpa Celana (hlm. 91-96).
Di puisi tersebut, Joko Pinurbo melakukan nafas panjang dalam berpuisi. Genre ini yang disebut puisi esai oleh Denny JA, meskipun banyak ditangkis oleh sastrawan dan pecinta sastra negeri ini. Saya sendiri tak tahu harus menamai puisi panjang yang lebih mirip cerpen itu dengan sebutan apa?
Baca juga: HIV dalam Sebuah Novel
Ada dua puisi panjang, sebut saja begitu, yang ada dalam buku ini, yaitu Laki-laki Tanpa Celana dan Liburan Sekolah (hlm. 161-166). Puisi terakhir cukup menarik karena Joko Pinurbo menceritakan tentang dirinya di masa lalu dan masa sekarang. Saya menangkap kesan itu dari bait berikut:
“Ibu tidak dari toilet, anakku. Ibu habis memasuki rumah tua dalam lukisan itu. Ternyata itu perpustakaan. Ibu sempat membuka-buka sekilas beberapa buku tua. Ibu senang bisa menemukan sebuah kitab puisi yang Ibu cari-cari. Judulnya lucu, Celana.”
“Celana, Ibu? Bukankah itu buku yang baru akan saya tulis dua puluh tahun yang akan datang?” (hm. 165)
Semakin menyelami puisi-puisi Joko Pinurbo, semakin memahami kesederhanaan penyair ini melalui kata-katanya. Puisi-puisi yang ditulis dalam kurun waktu 1989-2012 ini semacam sajian bagi para penikmat puisi dan pecinta Pacar Kecilku, seperti halnya saya, untuk segera menunaikan ibadah puisi sebagai suatu ibadah puisi yang paripurna. Maka, saya akan memberikan kalimat akhir tentang buku puisi ini dengan: Pacar Kecilku Telah Menunaikan Ibadah Puisi.
