Monday, May 25, 2026
Home > Sosok > Mencoba Mengalir Kemana Hidup Bergulir

Mencoba Mengalir Kemana Hidup Bergulir

Tary Lestari

Saya itu pembosan dan selalu ingin melakukan hal-hal baru yang menantang. Mumpung masih ada umur, saya ingin menambah banyak pengalaman baru dan bertemu dengan orang-orang yang berbeda. Dan begitulah, saya memutuskan resign lalu mencoba mengalir saja kemana hidup saya bergulir.

Apa sih suka dan dukanya menjadi seorang traveler. Bisa ceritakan pengalaman Mbak Tary sendiri?

Sukanya saya bertemu teman-teman baru, saudara baru dari perjalanan, tempat-tempat menarik yang membuat saya semakin takjub sama kekuasaan Allah, melihat budaya yang berbeda dengan budaya saya sehingga saya bisa membuka pikiran dan memahami benar bahwa manusia itu berjenis-jenis banyaknya dan diciptakan untuk saling mengenal dan berbagi kebaikan.

Dukanya apa ya, paling hal-hal kecil seperti teman perjalanan yang kurang menyenangkan, tetapi itu masih bisa dihadapi. Karena pada akhirnya itu juga menjadi pelajaran bahwa tidak ada manusia yang sempurna seutuhnya, pertentangan karena perbedaan karakter itu hal yang wajar. Justru karena itu teman perjalanan akan melengkapi kekurangan kita.

Selain kegiatan traveling, apakah sekarang Mbak Tary masih menulis skenario untuk televisi?

Iya masih. Saya memang bekerja fulltime sebagai penulis.

Eh, kabarnya Mbak Tary baru saja menerbitkan buku Keliling Asia, Memburu Cahaya. Buku ini bercerita tentang apa sih mbak?

Iya, buku itu Travel Diary, berisi tentang perjalanan saya di sembilan negara Asia menyinggahi masjid-masjid dan bertemu orang-orang baru yang memberi banyak pelajaran hidup selain juga mengeksplor lokasi wisata di negara tersebut.

Sebenarnya pesan apa yang ingin Mbak Tary sampaikan melalui buku ini?

Bahwa cahaya kebaikan itu ada di mana-mana, dari siapa saja dan kita bisa memungutnya kapan saja. Tetapi jangan lupa cahaya kebaikan itu juga seharusnya mengajarkan kita untuk berbuat baik.

Dari proses penggarapan hingga diterbitkan dan beredar di toko buku membutuhkan waktu berapa lama?

Sebenarnya buku ini terbit dari ketidaksengajaan. Saya berpikir sudah banyak buku traveling dan saya belum tahu mau mengambil dari sisi yang mana jika membuat buku. Tetapi saya sudah menulis beberapa artikel tentang negara-negara yang saya kunjungi dan dimuat di rubrik traveling beberapa majalah. Lalu teman saya menyarankan untuk diubah sedikit format dan fokusnya kemudian dijadikan buku. Sayang kalau tidak menjadi jejak, begitu katanya.

Saya menulis draft buku-nya dalam satu bulan (karena sebagian memang sudah saya tulis dalam artikel majalah) jadi lebih cepat. Seminggu setelah draft buku saya kirim dapat respon dari penerbit akan diterbitkan dan kemudian membutuhkan waktu tiga bulan untuk masuk ke toko buku.

Translate »