Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Opini/esai > Fasilitas Publik yang Tak Ramah Anak

Fasilitas Publik yang Tak Ramah Anak

Tatatertib Pedestrian Jomblo

Maklum, peraturan yang tertempel biasanya memang tidak akan banyak dibaca sebab fenomena kelisanan di provinsi ini yang masih mengakar. Masyarakat yang tahu akan peraturan ini tentunya ada, tetapi yang tidak tahu barangkali jumlahnya lebih banyak karena faktor tadi. Sebagian masyarakat akan lebih mudah memahami peraturan bila dilisankan. Bila pemerintah yang harus berkoar-koar setiap waktu tentulah tidak efektif juga. Kalau sudah seperti ini siapa yang salah? Kesadaran masyarakat terhadap norma-norma yang ada seharusnya menjadi pegangan bahwa fasilitas publik yang ada bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab kita bersama. Pemerintah menyediakan fasilitas dan kitalah yang merawatnya secara bersama-sama.

Apakah anak-anak perlu ditindak karena melakukan pelanggaran? Atau apakah pelanggaran ini sepenuhnya dibebankan ke orang tua? Anak-anak yang masih senang bermain tentu memerlukan perhatian khusus. Pemerintah yang sudah sangat kretaif membangun taman ini juga perlu memikirkan fasilitas yang ramah anak agar anak-anak memainkan permainan yang sesuai dengan usia mereka. Ke depan, semoga permainan khas anak-anak di bawah usia sepuluh tahun akan diwujudkan.

Dengan bahasa dan tutur sapa lembut, anak-anak yang memainkan alat peraga yang datang ke tempat ini tanpa orang tua bisa dinasihati. Jika mereka datang bersama orang tua, perlu diberikan pengarahan agar membangun kesadaran bahwa alat-alat peraga ini hanya boleh digunakan bagi mereka yang berusia di atas sepuluh tahun. Pertanyaannya, siapa yang berhak melakukan hal semacam ini? Apakah pemerintah saja atau harus berkoordinasi dengan masyarakat juga? Masalahnya, terkadang ada juga sebagian masyarakat yang bebal bila dinasihati dengan sesama masyarakat.

Barangkali solusinya, pemerintah perlu menyediakan petugas yang berjaga setiap Sabtu-Minggu, guna mengontrol keadaan mengingat masih banyaknya alat-alat peraga yang dikira anak-anak merupakan permainan bagi mereka. Padahal, jelas di peraturan telah tertulis bahwa pemakaian alat peraga di luar petunjuk berisiko menimbulkan cedera. Solusi ini tentunya demi kebaikan bersama. Tentunya tidak ada satu orang tua pun yang menginginkan anaknya cedera. Jika tanpa disengaja anak tersebut jatuh/cedera, siapa yang akan bertanggung jawab? Apakah pemerintah? Tentunya tidak bukan?

Adanya Taman Jomblo Jambi memang membawa angin segar. Di sisi lain, masyarakat yang belum teredukasi harus menumbuhkan kesadaran untuk mematuhi peraturan yang berlaku. Bila masih terus-menerus seperti ini, kemungkinannya sebagian masyarakat belum siap dengan adanya ruang dan fasilitas publik.

Translate »