Baca juga: Kisah-kisah Persahabatan dan Perempuan di Dataran Tortilla
Selain penolakan Akutagawa terhadap realitas, ada juga gambaran masyarakat Jepang pada 1920, yakni saat Craback melakukan konser musik kemudian dibubarkan oleh pihak kepolisian. Pameran lukisan dan hasil-hasil karya serupa sering juga demikian. Benarlah ketika Tock – Kappa penyair – berkata, “Seni tidak boleh diganggu oleh aturan-aturan kehidupan mana pun. Seni hanyalah untuk seni. Karena itu, Kappa mesti menjadi supperkappa dan berada di atas segala-galanya, termasuk nilai-nilai baik dan buruk.”
Membaca sosok penyair Tock, saya kemudian teringat Frederich Nietzsche, filsuf sekaligus penyair asal Jerman yang menciptakan konsep ubermensch ‘sang adimanusia/ manusia supper’. Manusia yang melampaui baik dan buruk sebagaimana supperKappa yang diceritakan Tock. Kisah lain tentang persaingan antarseniman. Juga seniman yang antikritik dijelaskan pada sosok Craback – yang hingga masa kini sosok-sosok semacam itu masih bisa ditemui di mana saja.
Ketika Akutagawa memunculkan tokoh Mag – Kappa Filsuf – saya juga menemukan sosok Nietzsche. Dalam buku Kata-kata si Tolol karangan Filsuf Mag, isinya berupa aforisme-aforisme persis aforistik khas Nietzsche pada bukunya Beyond Good and Evil dan Senjakala Berhala-Berhala dan Anti Krist. Barangkali Dendam Nietzsche terhadap realitas, penolakannya terhadap ilahiah, dan dunia bayang-bayang yang ia kisahkan sangat menginspirasi Akutagawa sehingga sosoknya juga dijadikan salah satu orang suci di kuil para Kappa. Hal lain yang sangat mencerminkan masyarakat timur juga dibahas Akutagawa pada bagian lima belas. Akutagawa mengisahkan Perkumpulan Penelitian Kebatinan yang meneliti arwah roh. Hal ini jelas menggambarkan adat ketimuran yang hingga kini masih percaya pada takhayul.
Akutagawa juga memunculkan kejahatan kapitalisme melalui sosok Gael. Hampir setiap tahun, Setelah ia memakan daging karyawannya, ia lalu memecat 40 – 50 ribu karyawannya. Setiap tahun ia membeli 700 – 800 mesin baru untuk mencetak buku di perusahaannya sehingga ia tidak membutuhkan tenaga Kappa lagi. Inilah gambaran masyarakat Jepang pada 1920-an. Para Kappa yang dipecat secara massal pun tidak melakukan aksi mogok seperti manusia. Saya kemudian mengingat Filsuf Posmodernisme – Jean Francois Lyotard – mengenai gagasannya tentang Nirmanusia. Bahwa Lyotard sangat curiga para manusia akan didehumanisasikan oleh kekuatan-kekuatan perkembangan kapitalisme lanjut, yakni sebuah ramalan di mana tenaga robot akan lebih dipercaya daripada tenaga manusia. Bisa jadi, pelan-pelan – hal ini akan juga terjadi di Indonesia.
