Friday, May 22, 2026
Home > Sosok > Menguak Rahasia Ratna Dewi: Perempuan dan Ruang Publik

Menguak Rahasia Ratna Dewi: Perempuan dan Ruang Publik

Ratna Dewi Yoga

Ratna juga menjelaskan bahwa figur perempuan menjadi sangat penting di ruang publik. Sebagai contoh, peran dan keberterimaan terhadap perempuan ditentukan oleh edukasi dan penanaman nilai-nilai egaliterian, persamaan, fungsi gender, dan aktualisasi kemanusiaan yang ditanamkan sejak kecil di keluarga. Betapa, seorang manusia (lelaki dan perempuan) dibesarkan di ruang keluarga akan sangat menentukan pandangannya terhadap perempuan di ruang publik.

Tentu saja, tambahnya, peran perempuan di semua ruang dan bidang  adalah istimewa. Perempuan hanya tinggal memaksimalkan keistimewaan dan keunikan dirinya masing-masing. Perempuan diberi kelebihan yang merupakan konsekuensi dari fungsi-fungsi spesifiknya (reproduksi). Perempuan dianugerahi kemampuan mengasihi dan mencintai yang lebih, sifat empati yang dalam, kepekaan, kejujuran dan sifat-sifat intrinsik lain. Bayangkan betapa harmonis dan selarasnya ruang publik jika perempuan hadir dan memaksimalkan sifat-sifat ini. Masalahnya hari ini, untuk menjadi unggul, banyak perempuan justru meninggalkan sifat-sifat keperempuanannya dan berupaya keras menyerupai sedekat mungkin laki-laki. Perempuan berusaha menjadi laki-laki dan berhenti menjadi dirinya sendiri. Akibatnya, berujung pada gesekan dan konflik. Sifat saling mengisi tidak ada. Ruang publik kita hari ini defisit sifat feminitas.

Ketika tim redaksi puan.co menanyakan tantangan perempuan di era globalisasi dan teknologi informasi, menurut Ratna Dewi tantangannya sama saja dengan yang dihadapi laki-laki. Kesulitan terberat mungkin dialami perempuan-perempuan yang tinggal di pelosok-pelosok kota yang tak sempat tergapai kemajuan zaman secara maksimal. Globalisasi mengasumsikan semua orang dalam kondisi dan kesiapan yang sama. Hal yang secara faktual sebenarnya utopis karena kompleksnya persoalan pembangunan. Tantangan perempuan secara spesifik, lebih pada akses teknologi dan informasi yang masih terbatas, kesempatan aktualisasi yang belum setara, dan adanya stigma “abadi” yang melabeli perempuan bertanggung jawab penuh baik terhadap keluarganya maupun ruang publik yang ia pilih. Globalisasi belum menghitung ruang domestik (keluarga) sebagai bagian tak terpisah darinya.

Nah, Sahabat Puan sudah tahu di mana saja Ratna Dewi pernah berperan sebagai perempuan di ruang publik? Beberapa tahun belakangan, Ratna  pernah punya program sendiri  di salah satu TV Swasta di Jambi yang bernama Lensa Ratna, yang tayang seminggu dua kali tahun 2014 hingga 2015. Di tahun 2015 setelah program ini berakhir, Ratna memimpin proses kreatif sekaligus pemandu acara sebuah program talksow bertajuk IMK ( Intelektual Muda Klub) yang tayang hingga Oktober 2016. Sejak April 2017 hingga sekarang, Ratna membawakan program dialog Kupas Habis yang mengangkat dan membedah berbagi isu penting seputar kehidupan sosial dan kemasyarakatan di provinsi Jambi.

Translate »