Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Resensi > Kisah-kisah Persahabatan dan Perempuan di Dataran Tortilla

Kisah-kisah Persahabatan dan Perempuan di Dataran Tortilla

Kisah-kisah Persahabatan dan Perempuan di Daratan Tortilla

Sementara Danny dan keempat temannya  tidak bekerja secara tetap sebagaimana manusia di dunia nyata. Mereka hidup seadanya dan bekerja paruh waktu hanya jika sedang terdesak saja. Setelah bangun tidur, mereka makan lalu berbincang-bincang sambil minum sepuasnya sampai mabuk atau bepergian sesuka hati mereka, kemudian tidur lagi. Begitu seterusnya. Rutinitas yang membosankan, yang  bagi orang-orang masa kini bisa dikatakan sebagai pengangguran. Ukuran kebahagiaan keenam sahabat ini memang bukan uang seperti penganut hedonisme. Ukuran kebahagiaan bagi mereka terletak pada galon-galon berisi anggur yang memabukkan. Tujuan mereka hidup hanyalah untuk bersenang-senang tanpa memikirkan dan mempertimbangkan baik atau buruk.

Di rumahnya, Danny yang nonkonformis, adalah pemimpin dari kelompok petualang yang menjalin  persahabatan.  Di sanalah mereka dapat menyatukan perbedaan. Dalam perjalanan cerita tokoh Danny dan teman-temannya, banyak bermunculan tokoh-tokoh perempuan yang barangkali benar-benar menggambarkan perempuan-perempuan paisano di masa lalu. Uniknya, tokoh perempuan yang dimunculkan oleh Steinbeck adalah perempuan-perempuan kaya “yang memiliki rumah”, yang bisa dikatakan penganut materialisme sekaligus haus akan cinta. Perempuan-perempuan ini memandang seorang lelaki dari hartanya belaka. Sebut saja Cornelia Ruiz, perempuan yang dipuja-puja oleh Danny dan teman-temannya, atau si Manis – Dolores Engracia Romirez – perempuan manja yang mendekati Danny lantaran Danny memiliki rumah.

Sosok perempuan lain sejenis yang dimunculkan, misalnya tokoh Ny. Palociho, Emilio, Sussie Fransisco, Ny. Muralos, Gracie Montez, Tonia, Ny. Pleton Duta, hingga si Tua Tia Ignacia yang jatuh cinta kepada Big Joe Portugis. Tokoh-tokoh ini beberapa kali muncul dalam cerita, beberapa di antaranya dinarasikan oleh para tokoh lelaki saat berada di rumah Danny. Tokoh-tokoh perempuan yang lebih banyak daripada tokoh lelaki ini barangkali menggambarkan bahwa di zaman itu – dipercayai masih sama dengan zaman sekarang – yakni perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Terlebih lagi ada tokoh perempuan bernama Tereseia Cortez yang memiliki delapan anak. Ia tidak memiliki suami dan hidup bersama ibunya yang renta.

Baca juga: Rara Mendut, Sebuah Legenda atau Sejarah?

Suatu ketika Teresia Cortez kebingungan karena kehabisan makanan pokok keluarganya, yakni kacang polong. Anak-anaknya yang masih kecil kelaparan. Terlebih si Teresia sedang hamil anak kesembilannya. Jesus Maria – si rendah hati – yang mengetahui masalah ini kemudian memberi tahu teman-temannya. Demi membantu keluarga tersebut, mereka rela mencuri lauk-pauk di pasar dan berton-ton kacang merah di sebuah perusahaan. Memang, mereka sangat senang menolong orang lain. Kerja sama di antara mereka terjalin dengan sangat baik meskipun beberapa kali terjadi perbedaan pendapat dengan si antagonis – Pilon. Sebut saja, mereka juga menolong seorang kopral yang terlunta-lunta di selokan bersama seorang bayi. Mereka mengizinkan kopral tersebut tinggal di rumah Danny hingga saat-saat yang tidak diinginkan tiba, bayi si kopral meninggal dunia.

Translate »