Friday, May 22, 2026
Home > Literasi > Cerita > Kabar Buruk

Kabar Buruk

Kabar Buruk

Sementara sebagian pikirannya telah berlari ke rumah sebelah. Pada Ibeunu yang mati tenggelam. Mungkinkah anak itu mandi di laut? Tangisan Zana membuat Aliara tidak bisa mencari informasi lebih lanjut perihal kematian tragis putra bungsu tetangganya itu.

Selesai memandikan Zana, ia letakkan anak itu di atas kereta sorong bayi, kemudian mengambil Zane dari ayunan. Zana langsung menangis begitu ditinggalkan sang ibu. Aliara berusaha meneguhkan hati untuk memandikan putri yang satunya. Di saat seperti ini, ia berharap Syahdan ada bersamanya untuk membesarkan kedua putri mereka. Hidup memang tidak selalu memberi pilihan yang kita inginkan. Setelah kedua putrinya dipakaikan baju bermotif kupu-kupu lengkap dengan cibi-cibi di kepala, Aliara menyingkap gorden jendela.

Tamu semakin banyak berdatangan di rumah sebelah. Kemudian telepon genggamnya berdering. Ternyata Fatma yang mengabarkan kalau ia telah ditipu teman ayahnya. Sepeda motor itu telah dua bulan tertunggak bayarannya. Sore itu dua kabar buruk hinggap di telinga Aliara. Sementara malam mulai menurunkan tabirnya.

***

Air yang terlihat hijau di siang hari itu kian menggoda remaja lelaki yang kecapaian sehabis bermain bola. Remaja itu kembali menelan ludah, membasahi kerongkongan yang serasa kering. Ia dan tiga orang temannya baru saja selesai bermain bola di punggung bukit itu. Sebenarnya itu bukanlah lapangan bola yang sesungguhnya. Melainkan halaman perkantoran yang sunyi pada hari libur. Mereka memanfaatkan itu untuk bermain bola. Dan kolam yang terlihat hijau dengan airnya yang sejuk merupakan kolam buatan yang sering dijadikan tempat pemancingan orang kantor pada sore hari minggu. Setelah sebelumnya mereka letakkan ribuan bibit ikan di sana. Kolam itu tepat berada di kaki bukit yang dikelilingi jalan menuju perkantoran di atasnya.

Remaja itu terus memandang ke dalam air yang hijau, sebelum mulutnya berceracau mengajak teman-teman untuk mandi di tempat sejuk itu. Sepakat mereka berlari melompat ke dalam kolam. Dinginnya air menyegarkan seluruh urat saraf. Sebagai remaja yang tinggal di daerah pesisir, tentu mereka sangat mahir berenang. Remaja lelaki itu, bersama ketiga temannya telah berhasil menyeberang kolam dalam waktu sangat singkat.

Tak puas sampai di seberang, ketiganya berbalik untuk berenang kembali ke tempat mereka pertama turun. Matahari di atas menyengat kepala. Pohon-pohon mahoni yang ditanam di pinggir kolam masih terlalu kecil untuk menaungi tempat tersebut. Begitu tiba di tengah, bocah itu merasakan ada yang lain dengan air kolam, sebelum kemudian ia merasakan urat kakinya kaku tak mampu digerakkan lagi. Tangannya menggapai-gapai mencoba mencapai teman yang berada di sampingnya. Sebelum kemudian menyerah pada air hijau yang memiliki kedalaman tiga meter itu.

Translate »