Friday, May 22, 2026
Home > Literasi > Cerita > Kabar Buruk

Kabar Buruk

Kabar Buruk

Kolam buatan yang seharusnya menjadi tempat bersenang-sengang itu telah memakan mentah-mentah sebuah jiwa yang baru saja memiliki hasrat untuk terus tumbuh. Kematian menjemput tanpa surat pemberitahuan sebelumnya.

***

Aliara melirik jam di dinding kamar ketika tangisan Zana di ayunan membangunkannya. Jarum pendek menunjukkan angka satu, sementara jarum panjang menunjukkan angka tiga. Jangkrik terus bermain musik di luar rumah menjadi irama tak teratur yang terkadang memekakkan telinga. Setelah membuat susu untuk Zana, giliran Zane bersuara. Perempuan itu kembali membuat susu untuk sang putri kedua.

Yang terjadi kemudian, tangan kiri perempuan itu mengayun Zana, tangan kanan mengayun Zane sambil terkantuk-kantuk. Setelah kedua putrinya tertidur, kebutuhan lain terasa mengusik Aliara. Sambil mengucek mata ia menuju kamar mandi. Alam menjadi hening. Jangkrik-jangkrik itu telah berhenti bernyanyi. Aliara membenci kesunyian yang mendadak itu.

Begitu berjalan ke kamarnya, mata Aliara menangkap sesosok berpeci menatap ke luar jendela besar di ruang tamu sambil membelakanginya. Perempuan itu terkejut, rasa kecut menjalari seluruh tubuhnya. Ia kenal betul postur yang kini membelakanginya itu.

“Kak ini mie kepiting yang kujanjikan tadi.” Sosok itu berbalik meletakkan sebuah bungkusan berplastik hitam di atas meja tamu.

Aliara mundur beberapa langkah. “Tidak, itu bukan kamu. Ibeunu telah meninggal tenggelam.”

Remaja itu tersenyum, “Lain kali kalau sendirian di rumah, Kakak jangan lupa mengunci pintu,” ujar Ibeunu sambil menuju pintu. “Aku pulang dulu, ya Kak.” Ia membuka pintu yang tidak terkunci itu meninggalkan Aliara yang masih terkesima. Dengan cepat perempuan itu menuju pintu dan menutupnya. Tak dilihatnya lagi kepergian Ibeunu dalam gelapnya malam. Kejadian barusan cukup memacu adrenalin.

Segera ia bergegas ke kamar, dipandangi kedua putrinya bergantian. Dicubitnya lengan kiri, terasa sakit. Hendak mengintip tenda kemalangan di rumah tetangga, tidak memiliki cukup keberanian untu keluar kamar. Ia mulai berprasangka sedang bermimpi saat mendengar kabar kematian Ibeunu tadi sore. Sosok Ibeunu tadi membelakanginya dan tidak ada lubang menganga di punggung. Hantu dan sejenisnya mempunyai lubang di punggung dan menghindari membelakangi kita.

Jangkrik kembali berbunyi di luar rumah, bersamaan itu hand phone-nya juga berdering, memutuskan segala lamunannya tentang teka-teki kematian Ibeunu.

“Nyak, yang sabar ya. Bang Syahdan masuk rumah sakit. Ia sakit keras,” suara cemas ibu mertua di seberang ibarat seribu jarum menusuk dada Aliara.*

Translate »