Aliara keluar hendak mengangkat jemuran di halaman samping, matanya menangkap kerumunan orang-orang di rumah sebelah yang tidak berpagar. Di halaman depan rumah bercat kuning itu sudah berdiri tenda yang menandakan kemalangan. Ia sedikit terkejut karena tidak tahu menahu perihal yang menimpa tetangga dekatnya itu.
Mengurus si kembar telah menyita semua perhatian Aliara. Fatma yang biasanya membantu, pamit pulang ke orang tuanya Sabtu kemarin. Gadis yang cukup cekatan mengurus bayi kembar di usianya yang sangat muda itu telah menyimpan gajinya untuk membeli sepeda motor matik, tentunya secara kredit. Ayah Fatma membeli sepeda motor temannya yang sudah ditutup angsuran selama setahun oleh sang teman. Sialnya teman ayah Fatma ternyata bermasalah dengan pihak kreditur. Karena perihal itulah, Fatma pulang selama dua hari. Si kembar menjadi tanggung jawab Aliara sepenuhnya.
Sebagai ibu muda, Aliara sangat bahagia mengurus kedua bayinya. Hanya saja bila sendirian di rumah, ternyata cukup merepotkan juga. Sementara sang suami bekerja di kota lain. Kalau tidak keluar tadi, ia pasti tidak meyadari kedatangan orang-orang ke rumah Kak Rangkuti, perempuan Batak yang dikawini Bang Burhan. Anehnya para tetangga malah memanggil marganya saja, bahkan Aliara tidak tahu pasti nama asli perempuan itu.
“Dek, ada apa ramai-ramai?” tanya Aliara pada gadis berjilbab merah pupus yang berdiri di dekat tenda.
“Ibeunu tenggelam, jenazahnya baru saja diketemukan.”
“Ibeunu?”
Gadis itu kembali mengangguk prihatin.
Baru tadi pagi Ibeunu, putra bungsu Kak Rangkuti berpapasan dengan Aliara di halaman rumah. Sambil membenarkan letak pecinya, anak yang baru berumur tiga belas itu menegurnya.
“Kak Aliara, kau mau mie Aceh kepiting? Nanti malam kubawakan untukmu.”
***
Suara tangisan Zana membuat Aliara beranjak masuk kembali ke dalam rumah yang dikontraknya dua tahun lalu itu. Meninggalkan jemuran yang masih melambai di halaman samping. Wajah Zana seperti terong karena menangis menjerit-jerit. Sepertinya bayi perempuan itu pup. Zane yang masih tertidur ikut terbangun. Mungkin inilah keruwetan lain dari memiliki anak kembar.
Aliara membawa Zana ke kamar mandi untuk dicebokin. Putri yang lima menit lebih dulu dilahirkan itu memang lebih cengeng dari adiknya. Kalau ia menggendong Zane, anak itu biasanya langsung menangis cemburu. Mungkin inilah yang disebut kepekaan kanak-kanak. Aliara menajamkan telinga, masih terdengar celoteh Zane dari dalam ayunan. Itu cukup melegakan hati. Ia memandikan putri sulungnya terlebih dahulu.
