Monday, April 27, 2026
Home > Sosok > FREE HEARTY: Citra Perempuan di Mata Penulis Laki-Laki

FREE HEARTY: Citra Perempuan di Mata Penulis Laki-Laki

SOSOK BUNDO FREE

Apa kabar, Sahabat Puan? Edisi akhir tahun kali ini, puan.co menampilkan sosok ibu luar biasa yang inspiratif.  Beliau adalah Free Hearty – yang akrab disapa Bundo Free –perempuan paruh baya yang mengabdi di perguruan tinggi lebih dari tiga puluh tahun. Selain berupaya mencerdaskan anak bangsa, hingga kini beliau masih aktif menulis dan berorganisasi.

Menulis bagi Bundo Free tidak membutuhkan waktu khusus. Ketika inspirasi datang, ia langsung mencatatnya. Hal tersebut bisa dilakukan di mana saja, bahkan bisa di kamar kecil sekalipun. Setelah ide dicatat, kemudian ide tersebut bisa diolah kapan saja. “Membaca dan menulis di kamar mandi adalah hal yang biasa. Daripada termenung saja, lebih baik memanfaatkan waktu luang,” ungkapnya.

Meski berusia senja, Bundo Free masih aktif menulis. Bukan karena tuntutan profesi atau kegemaran belaka,  melainkan lebih pada kebutuhan jiwa. Saat ide-ide atau pemikiran bermunculan dalam kepala, cara mudah menuangkan imajinasi tersebut hanya dengan menulis. Hal inilah yang menjadi salah satu kesulitan Bundo Free bila diminta pesanan menulis dengan tema tertentu. Terkadang bisa saja muncul inspirasi dengan tema terkait, tetapi kadang susah juga memancingnya. Maka, Bundo Free lebih sering menolak menulis karya dalam bentuk pesanan. Kecuali bila tiba-tiba muncul inspirasi berkaitan dengan tema yang ditawarkan.

Bagi seorang penulis, membaca adalah hal yang penting. Menurut Bundo Free membaca memberikan banyak manfaat.

“Bacalah sejarah sastra, kritik sastra, dan karya-karya sastra! Bila tertarik dengan sebuah buku, apa pun itu, baca sajalah! Otak akan terlatih memilih dan memilah bacaan dengan sendirinya. Hal ini tidak bisa dengan menunjuk sebuah bacaan saja. Harus rajin, rajin, dan rajin membaca! Sebab minat setiap orang berbeda-beda, juga tingkat pemahamannya tentu berbeda. Satu-satunya jalan untuk menambah wawasan, ya harus membaca banyak. Maka perempuan-perempuan Indonesia perlu banyak membaca!”

Sejauh ini, Bundo Free tidak memiliki ketertarikan secara khusus dengan penulis tertentu. Beliau yang sudah hobi membaca sejak kecil, lebih menyukai buku-buku yang berbobot falsafati, dalam, dan indah, baik itu ditulis oleh penulis Indonesia maupun penulis luar negeri. Bacaan yang menarik akan selalu memanjangkan imajinasi dan memunculkan inspirasi. Kalau tidak bagus, maka ia akan hilang begitu saja tersapu angin.

Dalam perbincangan kami yang hangat, Bundo Free menuturkan bahwa selama ini perempuan lebih banyak digambarkan oleh penulis laki-laki. Penulis laki-lakilah yang membangun citra perempuan. Perempuan dicitrakan sebagai makhluk lemah yang bodoh, berada di bawah kekuasaan laki-laki, tidak bisa memutuskan sendiri, hidup sepenuhnya di bawah bayang-bayang lelaki. Perempuan sering menjadi korban atau dikorbankan. Perempuan seperti tidak punya kesempatan bersuara. Suaranya selalu disuarakan oleh kaum laki-laki. Gambaran tentang diri, perasaan, dan keinginan perempuan ditulis melalui perspektif laki-laki dan kebanyakan perempuan hanya patuh saja.

Translate »