Monday, May 25, 2026
Home > Literasi > Opini/esai > IDEALITAS SUPERIORISME PEREMPUAN FIKSI DAN FAKTAWI: Pramoedya A.T. tentang Nyai Ontosoroh dan Kartini

IDEALITAS SUPERIORISME PEREMPUAN FIKSI DAN FAKTAWI: Pramoedya A.T. tentang Nyai Ontosoroh dan Kartini

kebaya indonesia

Narasi superiorisme Sanikem, alias Nyai Ontosoroh, tokoh rekaan dalam Bumi Manusia karya Pramoedya memenangkan berbagai penghargaan prestisius. Menulis Nyai Ontosoroh, bagi Pramoedya, agaknya bukan sekadar menuliskan sejarah kolonial Belanda, melainkan juga menuliskan sejarah perkembangan feminisme di Indonesia dan dunia. Nyai Ontosoroh kira-kira hidup di masa selesainya Perang Aceh, yang langsung disusul persiapan perlawanan Diponegoro di Jawa. Di masa itu, luar biasa jika seorang perempuan yang bukan siapa-siapa menjadi apa-apa sebesar Nyai Ontosoroh – seorang business woman sukses – direktris sebuah perusahaan pertanian (Belanda: Boerderij Buitenzorg) besar. Lepas bahwa sebagai “wanita idaman lain”, ia mendapat didikan tuan penguasanya – Herman Mellema yang Belanda asli – yang menggunakan karakter keseharian modern mengenai tata cara makan, kebersihan, kedisiplinan memanfaatkan waktu, pergaulan antarsesama manusia, sampai peradaban sastra tinggi: membaca dan menulis.

Nyai Ontosoroh semula adalah Sanikem yang “tegas”. Inilah yang membedakannya dengan Sanikem yang lain –  yang hidup di zamannya. “Tegas”, bahwa dengan satu waktu saja, ia berhasil secara frontal melepaskan diri dari keakuannya sebagai anak Sastrotomo (Jawa: juru tulis yang utama), yang dihormati karena satu-satunya yang dapat baca-tulis di kantor, yang menjualnya demi sekeping uang dan sepenggal pangkat. Segera Sanikem mematrikan tekad, tak hendak mengingat keluarga dan rumahnya sekalipun. Ia lalu bermetamorfosis menjadi Nyai Ontosoroh yang rasionalis dan berkarakter sekuat baja. Sebuah proses revolutif: tegas dan singkat.

Sementara membaca Kartini, bagi Pramoedya, agaknya menghujamkan kedalaman empati terhadap kaum perempuan umumnya, kemudian melahirkan buku Panggil Aku Kartini Saja/PAKS. Bagi saya pribadi, membaca Kartini dari berbagai sumber orisional sekalipun, masih tetap tidak lengkap tanpa membaca PAKS. Sebab selain PAKS ditulis oleh sang sastrawan segudang prestasi, PAKS juga ditulis melewati lintas kelamin, rentang sejarah yang panjang, dan di atas karakter humanisme mutakhir yang dianut Pramoedya. Maka PAKS adalah sebuah analisis obyektif terhadap sejarah ketokohan Kartini, jauh dari kepentingan sepihak.

Kartini adalah seorang bangsawan, juga hidup di masa kolonial. Masa kecilnya, ia hanyalah seorang raden ajeng yang dibingungkan dengan berbagai tanda tanya cerdas mengenai kapasitasnya kelak, tetapi tak pernah terjawab. Setelah bertemu dengan sahabat-sahabat Eropanya seperti Ny. Abendanon, Estella Zehandellar, dan seterusnya, ia kemudian bermetamorfosis menjadi Kartini yang kritis, pemberontak, senang berkonsepsi. Namun, ia tetap berpijak pada peradaban feodalisme yang kental dengan kastaisme dan marjinalisme perempuan. Ia hidup dalam kebimbangan antara fakta bahwa ia seorang bangsawan yang harus mengikuti tata cara istana. Di satu pihak, ia mengidealitaskan diri menjadi humanis, di antara manusia bumi, dan berbakti untuk sesama. Sampai akhir hayatnya, ia menjadi tokoh perempuan yang mengalami ketragisan hidup, tak pernah selesai bermetamorfosis secara evolusioner, tergerus dalam tarik ulur yang mencekam antara naluri rasional dan emosional.

Translate »