Halaman: 1 2

Siapa bilang masturbasi tidak menarik? Buktinya, tidak sedikit orang yang pernah melakukan masturbasi. Hal yang sama juga berlaku untuk membaca. Masturbasi dan membaca sama-sama memiliki sisi menarik. Masalahnya, seberapa sering kita membaca ketimbang melakukan masturbasi.
Omong-omong soal membaca, tentu kita merujuk penelitian yang dilakukan Connecticut University yang bertajuk World Most Literate Nation. Penelitian yang kurang ajar ini tentu sangat menyakitkan. Namun apa boleh buat, mereka punya metode sendiri. Indonesia ditempatkan pada peringkat enam puluh dari enam puluh satu negara yang diteliti. Kita hanya berada di atas Botswana. Ya, Botswana. Saya pernah dengar nama negara ini entah di mana. Jika terdengar ‘Botswana’ seperti de javu saja. Negara antah berantah ini yang kata wikipedia, terkurung oleh daratan, rasanya tidak sebanding dengan Indonesia.
Posisi kita berada di bawah Thailand. Negara kecil ini berhasil di atas kita soal literasi. Kalah telak dari Thailan soal literasi memang menyakitkan, seperti kekalahan kita dalam final piala AFF yang sudah-sudah.
Tujuh belas ribu pulau lebih dan dua ratus lima puluh juta manusia tidak membuat kita baik dalam literasi. Soal masturbasi mungkin bisa beda hasil. Penelitian lain yang lebih menyakitkan adalah yang dikeluarkan UNESCO. Mereka bilang, hanya satu anak Indonesia yang memiliki minat baca dari seribu anak. Mungkin anak Indonesia menurut UNESCO lebih menyukai menonton sinetron anak jalanan ketimbang membaca buku yang tidak memiliki manfaat praktis. Namun, angka 0,001 % sangat membuat saya mual.
Membaca memang tidak semenarik masturbasi yang memiliki dampak praktis. Alih-alih ingin orgasme di saat yang cepat, buku tidak bisa menghadirkan itu. Membaca buku bukan berarti membuat Anda pintar dalam waktu singkat. Bahkan buku bisa saja tidak memiliki dampak apa-apa. Mengutip wawancara Eka Kurniawan bersama Desi Anwar, dia mengatakan, paling tidak membaca buku bisa mengubah cara berpikirmu. Sebenarnya itu yang harus didapatkan dari membaca. Tentang bagaimana kita belajar dari berbagai macam sudut pandang dan memahami segala sesuatu. Entah itu membaca fiksi atau nonfiksi, itu tak masalah.
Sudah setahun ini saya turut ambil bagian dalam meningkatkan minat baca melalui Lapak Baca gratis yang saya gelar setiap minggu. Bukan berarti saya benar-benar peduli. Saya hanya melakukan apa yang saya senangi. Pengalaman di lapangan membuktikan bahwa di daerah saya (Jambi) anak-anak lebih tertarik dengan buku dari pada orang dewasa yang sudah bisa berpikir layaknya orang dewasa. Jangan tanya remaja yang katanya generasi milenial ini. Ada tapi tidak banyak, bisa dikatakan ada tapi tidak ada, atau tidak ada tapi bisa dirasakan ada. Generasi ini sebenarnya memiliki potensi besar untuk menyebarkan kegiatan membaca, bahkan mereka cocok jadi tim sukses partai politik. Lihatlah bagaimana mereka menguasai media sosial. Asumsi saya kenapa remaja tidak tertarik dengan minat baca mungkin karena mereka lebih menyukai masturbasi, sehingga mereka cenderung ingin orgasme pada hal-hal praktis seperti gadget, misalnya. Melakukan chat dengan pacar orang lain, menonton youtube, dan memakan caci maki yang disajikan di media sosial. Beda sekali dengan anak-anak yang belum paham dengan masturbasi.
