Monday, April 27, 2026
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Ada Tangan “Dewa” di Tempat Wisata ini

Ada Tangan “Dewa” di Tempat Wisata ini

Tangan dewa

Kalau bicara tentang ikon wisata Kabupaten Muaro Jambi, pasti yang terlintas langsung Candi Muaro Jambi. Tidak banyak orang yang tahu, baru-baru ini ada tempat nongkrong paling kekinian sebelum menuju kawasan percandian. Konon katanya, di tempat ini terdapat dua pasang tangan “Dewa” yang fotonya ramai berseliweran di media sosial.

Tentu saja ini memantik rasa penasaran saya untuk mendatangi kawasan wisata tersebut.  Tidak sulit untuk mencapai lokasi tempat wisata yang dikenal dengan Pondok Lubuk Penyengat, Desa Baru, Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi ini. Dibutuhkan waktu hampir 45 menit dari pusat kota jika melalui Jembatan Aurduri I. Saran saya, jika Sahabat Puan akan mengunjungi objek wisata ini bisa memilih alternatif jalan lain, yaitu melalui Jembatan Aurduri II karena kondisi jalannya jauh lebih baik dibandingkan jalan melalui Jembatan Aur duri I.

 

Tangan Dewa
Tangan Dewa

 

Lahan seluas hampir 1 hektar ini disulap dengan berbagai ornamen berbau tradisional terbuat dari bahan rotan dan bambu.  Paling mencolok di sisi kanan dan kirinya terdapat dua pasang tangan menjulang ke langit. Bagi para pengunjung yang ingin berfoto pada tangan tersebut, harus menaiki tangga setinggi 2 meter dan tidak diijinkan lebih dari 2 orang. Tangan tersebut dikenal dengan julukan tangan “Dewa”.

Menurut Jaharudin, Anggota Komunitas Muaro Dano yang menggagas adanya kawasan wisata ini, ternyata makna adanya tangan yang terdapat di tempat wisata tersebut adalah sebuah usaha dan kerja keras. “Tangan yang kami buat ini awalnya satu tangan di sisi kiri. Ini maksudnya, dengan tangan satu saja kami sanggup berbuat. Dan tangan-tangan ini juga memiliki makna filosofi sebuah usaha keras dan kerjasama untuk mewujudkan cita-cita,” jelasnya.

Jaharudin menyebutkan, ide membangun kawasan wisata sudah digulirkan sejak Februari 2017, akan tetapi baru bisa launching bertepatan di hari ketiga Idul Fitri. “Kami awalnya cuma berniat membersihkan sungai yang kebetulan dilintasi kanal-kanal kuno. Kami juga ingin Desa Baru ini menjadi tempat wisata, bukan hanya tempat lewat masyakat ke candi yang selama ini kami dapat debu. Akhirnya setelah mendapat bimbingan dari Bang Misran, kami bergotong rayong untuk membuat pondok dan semua ornamen,” tambahnya.

Spot untuk berfoto
Spot untuk berfoto

Selain dua ornamen tangan “Dewa” terdapat juga bentuk lain seperti topi, sandal, tengkorak, botol-botol yang terbuat dari bahan rotan dan  bambu. Ada yang paling menarik, sebuah anjungan setinggi empat meter yang biasa digunakan untuk melihat pemandangan semua lokasi dan juga mengambil spot foto yang menarik dari atas.

Translate »