Halaman: 1 2
Tempat ini dikatagorikan dalam wisata minat khusus, karena lokasi ini memang menampilkan beberapa spot foto bagi selfi mania. Masih banyak potensi yang seharusnya bisa digarap di tempat ini. Sungai yang berada di pinggir lokasi, juga bisa menjadi daya tarik lainnya bagi pengunjung. Namun, mereka belum bisa berbuat banyak karena terkendala dana untuk membersihkan sungai tersebut. Sungai ini juga mengitari kawasan percandian dan bermuara pada Sungai Batanghari. Terdapat beberapa kayu ukuran besar dan enceng gondok menutupi permukaan sungai.
“Selama ini kami bergotong royong untuk membuat ornamen, termasuk membersihakan sungai. Pemerintah masih belum mendukung untuk mengembangkan tempat wisata ini. Kami memerlukan alat berat untuk membersihkan sungai dengan jangkauan yang lebih luas lagi,” ujarnya.
Jika lapar, di Pondok Lubuk Penyengat juga disediakan berbagai penganan lokal, di antaranya cegau ubi, lempeng togok, dan cenget rotan. Cegau ubi, berbahan dasar ubi kayu yang diolah dengan digoreng tapi menggunakan minyak yang sedikit, begitupun dengan lempeng togok, hanya saja jenis ini berbahan dasar pisang. Pisang yang digunakan jenis pisang ulin dan dibaluri sedikit tepung. Sehingga hasil gorengannya menyerupai dipanggang. Sedangkan cenget rotan, adalah olahan gulai pucuk rotan, dan tidak setiap hari ada, tergantung pesanan pengunjung.

Pondok Lubuk Penyengat ini sudah bisa menyedot 3000 hingga 4000 pengunjung setiap minggunya. Lokasi wisata ini juga sudah menyerap tenaga kerja dari desanya dan memberikan sumbangsih pada pemasukan desa. Soal harga, untuk memasuki kawasan wisata lubuk penyengat cukup dengan membayar Rp 3 ribu untuk orang dewasa. Sementara anak-anak tidak dipungut biaya. Bagi Sahabaf Puan yang membawa kendaraan roda dua dan empat, kendaraan akan aman karena mereka juga menyediakan area parkir dengan tarif Rp 2 ribu untuk kendaraan roda dua dan Rp 5 ribu untuk kendaraan roda empat.
