Saturday, May 9, 2026
Home > Literasi > Cerita > Penggali Kubur yang Cabul

Penggali Kubur yang Cabul

PENGGALI KUBUR YANG CABUL

            “Lalu Siman itu sekarang di mana nek?” lagi-lagi saya bertanya.

            Jawab nenek. Siman berada di penjara sejak 40 tahun yang lalu. Karena tertangkap basah  ketika menyetubuhi mayat seorang wanita muda, berusia 20 tahun. Dan yang pertama mengetahui perilaku tak senonohnya bukanlah warga. Melainkan mayat itu sendiri yang menyaksikan kebiadapan seorang penggali kubur (Siman). Wanita itu tidak seutuhnya meninggal, ia hanya berada di perbatasan antara dunia nyata dan dunia mimpi selama kurang lebih 12 jam. Yang oleh warga sekitar, sudah dianggap meninggal dunia. Karena sudah tidak ada lagi roda napas yang keluar dari kedua lubang hidungnya. Juga tidak menunjukkan adanya jantung yang berdetak. Sehingga warga serentak mengatakan Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun.

“Mungkin itu yang disebut dengan mati suri nek?”

“Ya betul! Itulah kejadian mati suri,” Katanya sambil membuang muka.

“Seandainya wanita itu tidak hidup lagi. Mungkin kebiadapannya tidak akan terbongkar sampai sekarang. Kita juga tidak pernah kepikiran, sebelum-sebelunya sudah berapa mayat yang menjadi korbannya selama ini.”

Dan katanya. Ketika dimintai pertanggungjawaban oleh warga atas kejadian itu, Siman sudah tidak bisa berdusta lagi. Dengan kelakukannya pada malam itu. Karena semua bukti sudah jelas. Kemudian si korban juga memberikan keterangan yang lengkap tentang dirinya yang bersobok dengan Siman di dalam kuburan.

“Iya pak, dia sudah mencabuli saya. Bahkan burung miliknya sudah masuk setengah kepala di kemaluan saya. Begini! Awalnya saya hanya merasakan sesuatu yang suni, dan melihat kegelapan yang sangat gulita. Yang saya kira, itu hanya sebuah malam yang mati lampu. Saya membuka mata secara perlahan-lahan laksana bangun tidur. Tapi merasakan adanya desikkan yang semakin dipertengkarkan oleh angin yang begitu menderu ‘Saya ini ada di mana?’ Dengan suara yang hidup di antara dinding tanah.  Semprot cahaya lampu mengendap di setengah tanah yang menjorok ke dalam. Setelah saya semakin merasakan sakit di bawah perut. Mungkin lebih tepatnya di tengah-tengah kedua pangkal paha ini. Barulah saya menurunkan pandangan bola mata yang sebelumnya mendanga ke atas langit. Yang kemudian membuat terpekik-pekuk layaknya lolongan suara anjing yang sangat keras ‘A…a…a…a…Tolong…tolong…tolong’. Dia menutup mulut saya yang sedang berteriak sejadi-jadinya. Lalu, keheranan dan rasa takut yang berlebihan semakin memuncak, ketika saya tidak merasakan adanya selembar kain apa pun yang memberi sekat di antara kedua tubuh kami. Kami telanjang, bertumpang tindih di dalam kuburan itu,” sambil menunjuk ke arah kuburan yang terbongkar.

Translate »