Wednesday, June 24, 2026
Home > Literasi > Cerita > Cakra Menggapai Angin

Cakra Menggapai Angin

Hitungan bulan terus berjalan hingga di suatu siang kudapati rumahku seketika menjadi senyap. Kupanggil Aminah berulang-ulang, yang ku dengar hanya suaraku sendiri yang memantul pada setiap sudut ruangan. Di atas meja ruang tamu kutemukan sebuah surat tergeletak, kuraih dan kubaca goresan tangan yang sangat kukenal itu.

**


Untuk kau yang selalu mengisi relung hatiku.

Sejak pertama kali kau meminangku dan memilihku sebagai seorang istri, kau tahu, Mas, ribuan mimpi indah berkecamuk dalam anganku. Merangkai dan mereka-reka hal terindah yang akan kudapati bersamamu. Semua harapan kusandarkan padamu. Semua pengabdian sebagai istri kuberikan untuk sebuah ikatan suci itu. Mimpi ini, ternyata tak seperti yang kubayangkan, aku harus tertatih mengiringi langkahmu yang kurasakan kian menjauh.

Untuk setiap senyum, tawa, tangis, dan kepedihan ini, aku selalu terus berupaya untuk bertahan. Kau tahu, Mas, aku sempat terjerembab, bangun, tersungkur, dan kemudian berusaha untuk bangun lagi. Semua kulakukan sebatas yang bisa kulakukan. Setiap pagi kurasakan dinginnya embun di ujung kulitku, setiap tetes embun itu akhirnya mencair saat mentari datang perlahan. Mimpiku juga seperti embun, Mas.

Setiap kali kubangun harapan itu, tetapi takkan bertahan lama dengan semua sikap yang kau lakukan untukku. Aku memilih menyerah, Mas. Aku memilih mengakhirinya dengan tidur karena kutahu takkan lagi melihat mentari. Embun akan selalu abadi di hatiku untuk setiap cinta yang kuberikan untukmu. Aku minta maaf, Mas. Selama ini aku tidak pernah bisa menjadi perempuan yang bisa kaubanggakan. Aku tak bisa membuatmu tersenyum kagum untuk setiap hal yang seharusnya bisa kulakukan untukmu. Sungguh, aku minta maaf atas seluruh ketertekanan dan rasa tidak nyaman yang kuhadiahkan untukmu.

Embun abadimu

Aminah

**
Aku terpaku beberapa saat, lama kuartikan sebuah surat pendek dari Minah. Perasaan aneh menelusup dan membuatku tersentak tatkala aku menyadari betapa besar kepedihan yang telah kutorehkan pada Aminah, perempuan yang telah memberikan seluruh hatinya untukku. Lalu aku berlari menuju kamar dan yang kudapati hanya sepi.

**

Dua orang perempuan berpakaian putih menghampiri seorang lelaki yang terbaring kaku. Salah satu dari mereka menyuntikkan sesuatu di bagian tubuhnya. Lelaki itu seperti kesakitan saat cairan dalam suntikan itu menelusuri sendi-sendi dalam tubuhnya.

“Sudah setahun Pak Cakra di sini, dan kau lihat tidak ada perkembangan sedikit pun,” ucap seorang perawat kepada temannya.

“Iya, tekanan mental dan rasa bersalah kehilangan istrinya menyebabkan depresi hebat yang sukar disembuhkan,” jawab perawat yang lain.

Translate »