Monday, May 10, 2021
Home > Literasi > Pendidikan > Gamang Menatap Masa Depan

Gamang Menatap Masa Depan

pendidikan1

Suasana kelas yang hening, beberapa siswa membentuk kelompok kecil dengan posisi mengelilingi sebuah meja. Panas menyengat di luar ruangan tidak mematahkan semangat anak-anak tersebut untuk membaca halaman buku yang mengupas tentang keberagaman adat istiadat di Indonesia.

“Apa nama tradisi lompat batu di Suku Nias?” tanya Puji Astuti, Guru SDN 171/VI Pauh Menang Kecamatan Pemenang Kabupaten Merangin. Suaranya memecahkan kesunyian, Supriyadi salah satu murid terlihat malu-malu mau mengacungkan tangan.

“Iya, Supri. Tahu jawabannya? Silahkan Supri,” lanjutnya.

“ Fahambo Batu, bu,” seru Supri.

Supriyadi, atau biasa dipanggil Supri adalah salah satu putera dari Mansyur. Mansyur merupakan anggota  dari kelompok Orang Rimba atau komunitas Suku Anak Dalam (SAD), yang melihat pendidikan sebagai tujuan untuk membuat kehidupan mereka berubah. Mansyur sudah menyekolahkan tiga anaknya, kakaknya Rahman malah sudah ditingkat akhir SMP.

Supriyadi, bukan satu-satunya “anak rimba” yang bersekolah disini, ada tigabelas anak lagi yang berasal dari komunitas SAD.  Sejak sepuluh tahun terakhir, minat bersekolah formal komunitas ini meningkat pesat, ini ditandai dengan bertambahnya mereka setiap tahunnya. Puji Astuti menyebutkan, setiap tahun jumlah peserta didik dari komunitas ini memang semakin meningkat, katanya dulu hanya kurang dari 5 murid namun sekarang mereka menjadi lebih banyak. “ Dulu kakaknya ada di sini, dan kemudian dilanjutkan dengan adik-adiknya. Dulu dominan hanya laki-laki dan sekarang perempuannya juga sudah ada,” katanya.

Ada 5 anak perempuan yang bersekolah yaitu, Dalina, Superni, Janah, Mariyan dan Santi. Mereka biasanya selalu diantar jemput oleh orang tuanya, karena bagi komunitas SAD memang tabu perempuan berpergian tanapa didampingi laki-laki ataupun orang tuanya.

Mengejar Bayang-bayang Mimpi

Supriyadi bercerita sejak pukul 06.00 WIB dia bersama teman-temannya sudah memacu kendaraan bermotor menuju sekolah. Jarak tempuh antara pemukiman mereka  dengan sekolah memakan perjalanan selama lebih kurang 45 menit.  Selain tempat menimba ilmu, sekolah bagi Supriyadi adalah tempat dimana dia bisa bertemu dengan teman-teman di luar komunitasnya. “Kami dianggap sama dengan mereka, perlahan tidak ada lagi yang takut , jijik dan pandangan negatif dengan kami,”katanya.

Facebook Comments