Friday, July 17, 2026
Home > Literasi > Pendidikan > Gamang Menatap Masa Depan

Gamang Menatap Masa Depan

pendidikan1

Supriyadi sudah 2 kali keluar dan kembali masuk lagi ke sekolah, alasannya hampir sama menghinggapi anak-anak ini yaitu mengikuti orang tuanya berburu ataupun membuka kebun di lokasi baru. “ Saya kemarin sempat keluar karena ikut bapak berburu dan membuka kebun di lokasi yang jauh dari sekolah,” ceritanya.

Anak-anak ini terpaksa berhenti bersekolah formal bisa satu semester bahkan lebih, dan kembali lagi masuk di semester berikutnya. Terkadang ini juga yang menjadi kendala bagi mereka untuk menamatkan sekolah. Ada diantara mereka yang sudah besar, tidak mau lagi kembali ke sekolah karena malu.

Bepak Yanto menyebutkan, selama ini di rombongnya, hanya mengandalkan lahan yang diberikan desa tidak lebih dari 3 hektar termasuk pemukiman untuk sebanyak 15 kepala keluarga. Berburu yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka, tidak bisa diandalkan lagi. Babi, sebagai hewan buruan utama sudah mulai berkurang. Mereka harus berburu bahkan memakan waktu satu harian, namun hasil yang didapat juga tidak menentu. Jika tidak beruntung, mereka pulang tanpa mendapatkan satu ekor pun hewan buruan.

Jika beruntung dalam seminggu, mereka akan membawa seekor babi dengan rata-rata berat mencapai 30 kg. Babi tersebut biasanya dihargai Rp 6.500 per kilo gram nya.  Penghasilan yang bisa diperoleh hanya berkisaR Rp 200 ribu. Hasil berburu ini pun akan dibagi rata-rata dengan seluruh rombong. Tentu saja hasil ini tidak akan mencukupi kebutuhan mereka.

Supriyadi dan teman-temannya yang lain, berjuang untuk mendapatkan pendidikan sebagai pintu masuk mereka pada penghidupan yang layak. Mereka mengemas mimpi-mimpinya melalui ujung pena dan selembar kertas. Hutan yang selama ini mereka andalkan mampu mencukupi kebutuhan hidup, telah beralih fungsi menjadi areal hutan industri, perkebunan skala besar, dan juga pemukiman. Supriyadi menahan rasa harunya ketika ditanyakan cita-cita kepadanya. Dia tersenyum dan menyebutkan “Menjadi pemain bola,” ujarnya.

Matahari tepat berada di atas kepala, bunyi bel panjang di ruangan guru menandakan berakhirnya kegiatan belajar mengajar. Siang itu mengantarkan tiga belas anak komunitas SAD kembali ke tempat tinggal mereka. Mereka akan kembali ke pemukiman dan kembali menanti pagi. Pagi yang mengantarkan banyak harapan dan membuat mereka merasa dekat dengan harapan.

Translate »