“bahkan kalian tega dan tidak enggan
menyaksikan menyiksa gurumu wahai murid
air mata mana yang akan kalian suguhkan di pangkuannya?
penyesalan macam apa yang akan kalian haturkan di hadapannya?
lantas ke mana arahmu melangkah tanpanya?
lantas siapa penuntunmu jika bukan dirinya?
dosamu padanya tidak ada ampunannya tanpa ampunannya
pikirkan jika hatimu masih ada!
perhatikan jika pikiranmu belum binasa!”
Berkaitan itu, Suyadi San dan Tsi Taura bersepakat mengumpulkan puisi tentang peristiwa menjadi satu buku. Tsi Taura ini selain penyair, juga penegak hukum. Dari dialah ide penerbitan buku muncul.
“Kami spontan mengajak sastrawan, pendidik, pemerhati pendidikan, atau siapa pun yang berempati kepada kasus Pak Budi untuk merefleksikan hal ini melalui puisi. Mungkin dengan puisi, kita bisa menggugah siapa saja tentang insan cendikia ini. Semoga tidak ada Pak Budi-Pak Budi lain yang bernasib serupa,” ucap Suyadi San, penyair Medan.
“Alhamdulillah, sehari setelah kami umumkan tentang undangan menulis puisi via jejaring sosial, terhitung sejak 5 Februari 2018, kiriman puisi berdatangan di pos elektronik kami. Bahkan, respons pertama datang dari penulis di Bali dan Bengkulu, bahkan dari Johor, Malaysia, menyusul daerah-daerah lain,” tambahnya.
Tentu saja Suyadi San dkk. gembira atas dukungan dari teman-teman sastrawan, pendidik, pemerhati pendidikan, dan pers datang silih-berganti melalui puisi dan berita secara berjejaring. Tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri, yaitu Malaysia. Termasuk, warga Negara Indonesia yang tinggal di luar negeri (Jerman dan Korea Selatan), baik yang sedang bekerja maupun melanjut pendidikan. Puisi-puisi juga berdatangan dari seluruh penjuru Nusantara, yaitu dari Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, dan Nusa Tenggara.
Hingga batas akhir pengiriman puisi pada 25 Februari 2018, 119 orang penulis mengirimkan 206 puisi. Ada yang mengirim satu judul, dua judul, bahkan hingga tiga judul. Ada juga yang mengirim setelah batas akhir tersebut, namun kami belajar konsisten untuk menerima karya tersebut walau tidak disertakan dalam buku antologi ini.
Puisi-puisi tersebut selanjutnya dikurasi oleh Tim Kurator yang terdiri atas Shafwan Hadi Umry, Mihar Harahap, dan Sartika Sari. Para kurator meloloskan sekitar 181 puisi dari 118 orang. Begitu pun, keputusan akhir berada pada kami selaku penggagas.
Sendja Djiwa
Buku antologi puisi ini pun kami beri nama Sendja Djiwa Pak Budi. Kata “sendja djiwa” kami kutip dari judul lagu almarhum Budi yang diunggahnya di Instagram. Firasat akan pergi selamanya rupanya sudah dirasakan sang guru. Hal ini tampak dari video yang diunggah di akun instagramnya terakhir.
