Wednesday, June 24, 2026
Home > Gaya Hidup > Jalan-jalan > Berkunjung ke Permukiman Orang Rimba Pulau Lintang

Berkunjung ke Permukiman Orang Rimba Pulau Lintang

gapura permukiman orang rimba

Sepintas saya tidak percaya, apa benar dahulunya mereka adalah Orang Rimba yang tinggal di hutan? Akibat ilegal loging, hutan yang dahulunya mereka tempati menjadi habis. Mau tidak mau mereka harus menghadapi persolan baru, yakni harus menghadapi masalah ekonomi dan masalah sosial yang lain, seperti berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyarakat  dusun. Selain perempuan rimba yang akrab disapa dengan Induk mengatakan bahwa biasanya pemerintah sering memberikan bantuan berupa sembako satu kali dalam sebulan.  Namun sudah tiga bulan ini, Orang Rimba Pulau Lintang sudah tak lagi mendapat bantuan.

Permukiman orang rimba pulau lintang
Permukiman orang rimba pulau lintang

“Tentu bantuan itu sangat penting bagi kami. Karena pekerjaan suami masih berburu babi di hutan. Babi pun sekarang sudah tidak sebanyak dulu lagi. Penghasilan utama orang rimba masih berburu babi. Penghasilan itu tidaklah cukup sebab anak-anak kami ada yang sudah bersekolah. Terkadang anak tidak mau sekolah kalau hanya diberi uang jajan Rp1.000,00 saja. harga barang pun sudah semakin naik” ucap perempuan itu.

Selain berburu babi, sebagian orang rimba juga membudi daya ikan lele dan beternak kambing, yang diberikan Cuma-Cuma oleh salah satu LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang peduli terhadap orang rimba. Di saat-saat tertentu, masyarakat dusun acapkali memesan ambung dan lukah kepada orang rimba.

Beternak lele
Beternak lele

“Lumayan sekali, buat nambah penghasilan,” kata lelaki rimba yang kemudian dialihbahasakan Pak Jenang kepada saya.

Di permukiman ini, terdapat sebuah balai yang digunakan sebagai tempat ibadah sekaligus tempat berkumpulnya Orang Rimba. Mayoritas Orang Rimba di Pulau Lintang sudah beragama Kristen. Pak Mustafa mengatakan agama Kristen sudah masuk ke orang rimba sejak tahun 1970-an. Pendetanya sendiri sudah ada dari orang rimba, jadi tidak perlu lagi ke luar.  Pak Mustafa, lelaki berdarah Jawa, menjadi jenang karena panggilan jiwa sebab orang tuanya dahulu juga seorang jenang. Selain di Pulau Lintang, Pak Mustafa juga seringkali ke Taman Nasional Bukit Duabelas. Di sana ia membuka kelas buat belajar baca tulis.

Dari balai, saya melihat sebuah bangunan yang tampaknya jarang digunakan. Pak Mustafa bilang itu adalah WC yang sudah dibangun, namun Orang Rimba lebih memilih beraktivitas MCK di sungai. Menurut mereka buang air di sungai lebih nyaman daripada WC. Walhasil, bangunan itu tak pernah dimanfaatkan.

Translate »